Home » » Mulianya Sosok Ibu dalam Islam

Mulianya Sosok Ibu dalam Islam

Written By Pusat Al Qur'an Indonesia on Senin, 22 Desember 2014 | 11.06

Oleh Hendriyansyah (Peminat Sosial Kemasyarakatan, Tinggal di Lamteng)
Desember, tampaknya, begitu istimewa buat sosok seorang Ibu. Betapa tidak, ada satu momen yang ditetapkan sebagai hari besar untuknya. Yaitu Hari Ibu, yang diperingati setiap 22 Desember. Nah, biar sobat Muslim semua pada tahu sejarahnya kenapa ada Hari Ibu, ini nih kita kasih bocorannya.
    SEJARAH Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22–25 Desember 1928 di Jogjakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama, di Jl. Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).
    Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan.
Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap seperti persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; serta pernikahan usia dini bagi perempuan. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Pentingnya Sosok Ibu
    Menjadi Ibu adalah kodrat seorang perempuan, namun pilihan. Sebab, tidak semua perempuan memilih untuk menjadi seorang Ibu. Menjadi seorang Ibu adalah amanah yang sangat besar. Karena di tangannya lah diberikan tanggung jawab mendidik anak yang pertama dan utama sekaligus pengatur rumah tangga.
    Islam sangat menjunjung tinggi posisi Ibu. Abu Hurairah meriwayatkan, telah datang seseorang kepada Nabi dan bertanya: “Siapakah yang berhak aku layani sebaik-baiknya?” Jawab Nabi: “Ibumu”. “Kemudian siapa lagi?” Nabi menjawab: ”Ibumu”. Dia bertanya lagi,  “Kemudian siapa?” Kata Nabi: “Ibumu”. “Lalu siapa?” “Ayahmu”. (HR. Bukhari Muslim).
    Begitulah, betapa pentingnya sosok seorang Ibu. Bagi seorang anak, Ibu berjasa besar dalam mengantarkannya menjadi sosok berdaya. Berkat Ibu lah seorang anak tumbuh sehat, cerdas, dan bertakwa. Ibu lah tokoh utama di balik kesuksesan seorang anak. Sungguh sangat sombong bila Ibu diabaikan.
    Bagi masyarakat, bukan hanya sebatas sebagai pelahir keturunan. Lebih dari itu. Ibu adalah peletak dasar lahirnya generasi penerus bangsa sebagai pewaris peradaban. Di tangan Ibu lah para pemimpin masa depan umat lahir. Apa jadinya bila untuk menjalankan misi sebagai pelahir generasi ini, Ibu menghadapi berbagai persoalan dan kesulitan hidup?
     Memang, menjadi Ibu bukanlah perkara mudah. Bukan sekadar menjalankan tugas kodrati mengandung dan melahirkan. Seorang Ibu harus mampu melewati masa-masa kritis dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Masa menjelang anak balig, saat di mana si buah hati harus siap menanggung tugas Ilahi.
    Sementara, fakta menunjukkan, mendidik anak kini tidaklah gampang. Pengaruh buruk lingkungan begitu mendominasi. Betapa stresnya ibu-ibu yang anaknya hobi tawuran, dugem, terjerumus narkoba, gaul bebas, dan sebagainya.
    Oleh karena itu, wajib bagi seorang Muslim untuk menghindari durhaka terhadap Ibu, tidak melaksanakan hak-hak Ibu, dan berbuat sesuatu yang menjadikan Ibu marah. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda: ’’Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan kamu durhaka kepada para Ibu, menanam hidup-hidup anak perempuan, mencegah pemberian dan menuntut yang bukan hak, Allah benci kepada kamu karena omong kosong, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta’’. (HR. Bukhari).
    Berani kepada keduanya pun dilarang Allah. Allah SWT berfirman: ’’Janganlah sekali-kali kamu mengatakan ìahî kepada keduanya dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia’’. (QS. Al-Isra’ : 23).
    Bunda Maryam adalah teladan utama lainnya yang diperkenalkan oleh Alquran. Dikatakan dalam Alquran, Ibunda Nabi Isa AS ini sebagai teladan kaum perempuan di zamannya. Salah satu nama surat Alquran juga dinamai dengan nama perempuan agung ini. Dia adalah perempuan surga. Kejujuran, menjaga kehormatan, dan kesucian adalah sejumlah sifat-sifat utama Bunda Mariam yang disebut Alquran. Oleh karena itu, Tuhan menempatkan beliau sebagai perempuan pilihan dan menjadikan beliau sebagai Ibu yang melahirkan Nabi Isa AS.
    Maryam adalah sifat-sifat keibuannya yang dapat diteladani. Seorang wanita hamil sendirian dinilai tidak akan mampu menggoyangkan pohon kurma hingga menjatuhkan buahnya. Akan tetapi, Maryam melakukannya sebagai tugas seorang ibu. Kesabaran dan sikap tawakal Bunda Maryam yang juga muncul dalam pribadi Nabi Isa AS merupakan sifat utama beliau lainnya yang dipuji Allah SWT dalam Alquran. Dalam kitab sucinya ini, Allah menjelaskan karakter dan sifat-sifat terpuji Bunda Maryam kepada seluruh umat manusia.
     Oleh karena itu, Ibu teladan yang berjuang mendidik anak-anaknya dengan cara efektif dan sistematis. Ia harus mampu melihat fenomena kehidupan. Kemudian mampu mengantisipasi secara cermat. Seorang Ibu teladan harus mampu membiasakan dirinya untuk berpikir jernih dan benar. Sehingga, di mata anak-anak ia seorang Ibu pemikir yang dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik terutama dalam keluarganya. Selamat Hari Ibu! 
sumber : http://www.prismaattin.com
Share this article :

Poskan Komentar

 
Copyright © 2011. Pusat Al Quran - All Rights Reserved
Template Published by Mas Template Redesigned by Pusatalquran.com,
Proudly powered by Blogger