Artikel Terbaru

Adab Puasa Ramadhan Khusus

Written By Pusat Al Qur'an Indonesia on Selasa, 30 Juni 2015 | 09.37

Di antara adab puasa khusus adalah menundukkan pandangan, menjaga lisan dari ucapan haram yang menyakiti (orang lain) atau ucapan makruh (tidak dicintai oleh Allah) atau sesuatu yang tidak berfaidah, dan menjaga anggota-anggota tubuh lainnya.

Sesungguhnya bagi setiap ibadah terdapat hukum dan adab yang perlu diperhatikan oleh seorang hamba yang hendak menunaikannya. Terlebih lagi jika ibadah tersebut adalah ibadah yang sangat agung dan memiliki kekhususan tersendiri, seperti ibadah puasa yang sedang kita pelajari ini.
Al-‘Allamah Ahmad bin Abdir Rahman bin Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah, yang dikenal dengan nama Ibnu Qudamah, dalam kitabnya Mukhtashar Minhajil Qashidin mengatakan,
اعلم: أن في الصوم خصيصة ليست فى غيره، وهى إضافته إلى الله عز وجل حيث يقول سبحانه: “الصوم لى وأنا أجزى به” 1 ، وكفى بهذه الإضافة شرفاً، كما شرَّف البيت بإضافته إليه فى قوله: {وَطَهِّرْ بَيْتِيَ} (الحج: 26)
“Ketahuilah, bahwa puasa memiliki kekhususan yang tidak terdapat dalam ibadah yang lainnya, yaitu disandarkannya ibadah puasa ini kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang mana Allah Subhanahu berfirman “Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” Cukuplah penyandaran ini sebagai sebuah kemuliaan, sebagaimana Allah telah memuliakanAl-Baitul Haram dengan menyandarkannya kepada-Nya dalam firman-Nya {وَطَهِّرْ بَيْتِيَ} Dan sucikanlah rumah-Ku (Al-Hajj: 26)”
وإنما فضل الصوم لمعنيين:
– أحدهما: أنه سرّ وعمل باطن، لا يراه الخلق ولا يدخله رياء.
– الثاني: أنه قهر لعدو الله، لأن وسيلة العدو الشهوات، وإنما تقوى الشهوات بالأكل والشرب، وما دامت أرض الشهوات مخصبة، فالشياطين يترددون إلى ذلك المرعى، وبترك الشهوات تضيق عليهم المسالك.
Sesungguhnya keutamaan puasa dikarenakan dua faktor:
  1. Puasa adalah ibadah yang dilakukan secara rahasia dan amal batin, (pada umumnya) makhluk tidak mengetahuinya dan ibadah tersebut tidak terkontaminasi riya`.
  2. Puasa itu mampu menaklukkan musuh Allah karena pintu masuk musuh Allah (menyimpangkan manusia) adalah syahwat, sedangkan syahwat menguat dengan makan dan minum. Selama lahan syahwat itu subur (syahwat dituruti), maka setan-setan pun hilir -mudik ke lahan santapannya tersebut. Dengan meninggalkan syahwat lah akan sempit jalan-jalan bagi mereka (setan-setan) (Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 43 (PDF).
Tentunya suatu ibadah yang memiliki keistimewaan seperti itu sangat perlu untuk kita lakukan adabnya sebaik-baiknya. Apalagi jika telah kita ketahui bersama dalam artikel sebelumnya (bacalah artikel: Hakikat Puasa (3)), bahwa ibadah puasa memiliki beberpa tingkatan,  yang jelas tidaklah bisa diraih dengan sempurna tingkatan demi tingkatan itu, kecuali dengan melakukan adab-adabnya.
Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan sebagian dari adab-adab tersebut,
فمن آداب صوم الخصوص: غض البصر، وحفظ اللسان عما يؤذى من كلام محرم أو مكروه، أو ما لا يفيد، وحراسة باقي الجوارح. وفى الحديث من رواية البخارى، أن النبى صلى الله عليه وسلم قال: ” من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه“
“Di antara adab puasa khusus adalah menundukkan pandangan, menjaga lisan dari ucapan haram yang menyakiti (orang lain) atau ucapan makruh (tidak dicintai oleh Allah) atau sesuatu yang tidak berfaidah, dan menjaga anggota-anggota tubuh lainnya (dari melakukan perbuatan haram atau makruh, pent.). Dalam Hadits dari riwayat Al-Bukhari, bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak menginginkan aktifitas meninggalkan makan dan minum yang dilakukannya (puasanya)’.
ومن آدابه: أن لا يمتلئ من الطعام في الليل، بل يأكل بمقدار، فإنه ما ملأ ابن آدم وعاءً شراً من بطن. ومتى شبع أول الليل لم ينتفع بنفسه فى باقيه، وكذلك إذا شبع وقت السحر لم ينتفع بنفسه إلى قريب من الظهر، لأن كثرة الأكل تورث الكسل والفتور، ثم يفوت المقصود من الصيام بكثرة الأكل، لأن المراد منه أن يذوق طعم الجوع، ويكون تاركاً للمشتهى.
Di antara adab-adab puasa khusus adalah (perut) tidak terpenuhi dengan makanan pada malam hari, bahkan makan secukupnya, karena sesungguhnya, tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya.  Kapan saja seseorang itu kenyang di awal malam, maka ia tidak mampu menggunakan tubuhnya (untuk melakukan kebaikan) di sisa waktu malam tersebut dan demikian pula jika ia kenyang saat waktu sahur, maka ia  tidak mampu menggunakan tubuhnya (untuk melakukan kebaikan) sampai waktu mendekati zhuhur. Karena kebanyakan makan membuahkan kemalasan dan kelemahan semangat, lalu terluput maksud puasa dengan banyak makan, karena yang diinginkan (dalam puasa) adalah merasakan lapar hingga (dengan sebabnya) ia menjadi orang suka meninggalkan sesuatu yang disukai oleh hawa nafsunya (secara melampui batas) (Mukhtashar Minhajil Qashidin, hal. 44 (PDF)).
Fadhilatusy Syaikh DR. Sami Ash-Shuqoir hafizhahullah   –salah satu dari tiga masyayikh yang ditunjuk oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin sebagai pengganti beliau mengasuh markas ilmiyyahnya- pernah menjelaskan tentang adab-adab puasa, secara ringkas beliau menyebutkan ada dua adab yang perlu diperhatikan oleh orang yang berpuasa, yaitu:
1. Adab-adab yang wajib dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa
Melaksanakan kewajiban berupa ucapan ataupun perbuatan, yang umum maupun yang khusus terkait dengan ibadah puasa, seperti: Bertauhid (dan ini kewajiban yang terbesar), memenuhi rukun puasa yang wajib dilakukan, kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar dan shalat berjama’ah bagi laki-laki yang sudah baligh, menjauhi ucapan dan perbuatan yang haram, baik yang umum maupun yang khusus terkait dengan ibadah puasa, seperti pembatal puasa Ramadhan, bersaksi palsu, ucapan batil, melangkah menuju tempat-tempat kemaksiatan.
2. Adab-adab yang sunnah yang tertuntut dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa
Ibadah puasa juga memiliki adab-adab puasa yang sunnah dilakukan. Walaupun tidak sampai wajib hukumnya, namun sangat penting dilakukan untuk kesempurnaan ibadah puasanya dan membantu meraih hakikat puasa dan maksudnya, seperti: makan sahur, menyegerakan berbuka, shalat Tarawih, dzikir, shadaqah, dan yang lainnya. Ketahuilah, bahwa memperbanyak ketaatan pada Allah saat puasa bulan Ramadhan sangat ditekankan, terlebih lagi membaca Al-Qur’an, karena bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan kebaikan dan bulan barakah.
Semoga Hadits berikut menjadi pendorong bagi kita untuk berlomba-lomba beribadah dan beramal shaleh pada bulan Ramadhan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ بِالخَيْرِ، وكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْه السَّلَامَ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ القُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ عَلَيْه السَّلَامَ كَانَ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ»
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan dalam melakukan kebaikanDan beliau paling dermawan ketika bulan Ramadhan saat Jibril ‘alaihissalam menemuinya. Jibril ‘alaihis salam menjumpai beliau setiap malam di bulan Ramadhan sampai Ramadhan berlalu. Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyetorkan hafalan AlQur’an kepadanya.   Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dermawan melakukan kebaikan daripada angin yang bertiup” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
***
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah
Artikel Muslim.or.id

Membaca Al Quran Tapi Berbuat Syirik

Written By Pusat Al Qur'an Indonesia on Senin, 29 Juni 2015 | 14.00

Anda dapati banyak orang yang membaca Al Qur'an namun mereka terjerumus dalam kesyirikan dan meninggalkan tauhid. Padahal perkara tauhid ini sangat jelas di dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam.

Tidak diragukan lagi bahwa Al Qur’an telah menjelaskan segala aspek yang dibutuhkan oleh manusia. Allah Ta’ala berfirman:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
dan Kami telah menurunkan Al Kitab kepadamu sebagai penjelasan atas segala sesuatu serta sebagai petunjuk dan rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim” (QS. An Nahl: 89).
Dan penjelasan yang paling dibutuhkan serta paling urgen bagi manusia di dalam Al Qur’an adalah tentang tauhid dan syirik. Karena perkara ini adalah pokok agama dan hal mendasar dalam Islam. Tauhid lah yang menjadi pondasi dari semua amalan yang dilakukan seorang Muslim, dan syirik lah yang bisa membatalkan semua amalan tersebut.
Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan kedua perkara ini di dalam Al Qur’an dengan penjelasan yang gamblang dan jelas. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.” (QS. Al Baqarah: 99).
Bahkan semua bagian dari Al Qur’an adalah penjelasan mengenai tauhid dan syirik. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa Al Qur’an seluruhnya menjelaskan tentang tauhid. Karena isi dari Al Qur’an pasti tidak lepas dari:
  • Perintah untuk beribadah kepada Allah dan meninggalkan syirik
  • Penjelasan tentang balasan baik bagi ahli tauhid, dan balasan buruk bagi ahli syirik
  • Penjelasan tentang hukum halal dan haram, yang ini merupakan konsekuensi tauhid
  • Kisah-kisah tentang para Rasul dan umat mereka, dan pergolakan yang mereka alami, yang ini merupakan pelajaran mengenai balasan atas tauhid dan syirik” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 16).
Maka Al Qur’an yang dibaca siang dan malam, dalam shalat, di luar shalat, dilantunkan oleh para qaari‘, dan dihafal oleh banyak orang, semuanya berisi tentang tauhid. Namun sayang sungguh sayang, masih banyak orang yang terluput dari hal ini. Mereka membaca dan mendengarkan Al Qur’an namun tauhid tidak nampak dalam perilaku mereka, bahkan mereka terjerumus dalam kesyirikan.

Tujuan membaca Al Qur’an

Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan mengatakan: “anda dapati banyak orang yang membaca Al Qur’an namun mereka terjerumus dalam kesyirikan dan meninggalkan tauhid. Padahal perkara tauhid ini sangat jelas di dalam Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Karena mereka melestarikan apa yang mereka dapati dari kakek moyang mereka, para syaikh mereka, dan kebiasaan penduduk daerah mereka. Mereka tidak merenungkan barang satu hari pun, dan tidak men-tadabburi, apa yang ada di dalam Al Qur’an. Dan mereka tidak berusaha mengkiritis apa yang dilakukan orang-orang, apakah hal tersebut sudah benar atau tidak?”.
Beliau melanjutkan, “bahkan mereka mempraktekkan taklid buta kepada kakek moyang mereka. Mereka menganggap Al Qur’an hanya dibaca sekedar untuk mengambil berkahnya saja dan meraih pahala dari membacanya. Mereka tidak bermaksud untuk mentadabburi dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 10).
Padahal Al Qur’an dibaca untuk diamalkan, karena ia adalah sumber hidayah, Allah Ta’alaberfirman:
(إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ) (الإسراء: من الآية9)
Sesungguhnya Al Quran ini memberikan hidayah kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. Al Isra: 9).
Allah Ta’ala juga memerintahkan kita untuk mentadabburi isi Al Qur’an, bukan sekedar membaca tanpa perenungan. Allah Ta’ala berfirman:
(أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا) (محمد:24)
Maka apakah mereka tidak men-tadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24).
Bahkan sebaik-baik manusia adalah orang yang mempelajarinya, berusaha memahami isinya dan mengajarkannya kepada orang lain. Bukan sekedar membacanya tanpa pemahaman. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
خيركم من تعلم القرآن وعلَّمه
sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Al Bukhari 4639).
Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan melanjutkan, “sedikit sekali orang yang membaca Al Qur’an dengan tujuan ini. Kebanyakan mereka hanya membacanya untuk mencari berkah atau sekedar bernikmat-nikmat mendengarkan tilawah sang qaari’, atau untuk mengobati orang sakit. Adapun membaca Al Qur’an untuk mengamalkannya, serta mentadabburinya, dan mengembalikan apa yang dilakukan oleh orang-orang kepada Al Qur’an, ini semua tidak ditemukan kecuali hanya pada sedikit orang saja” (Syarh Al Ushul As Sittah, Syaikh Shalih Al Fauzan, 11-12).

Terlalu perhatian pada tajwid, namun lalai para tauhid

Sebagian orang, memberikan perhatian yang begitu serius dalam tajwid (membaguskan bacaan Al Qur’an). Atau sangat perhatian pada langgam-langgam dalam membaca Al Qur’an, menghafal dan melatih langgam-langgamnya, atau mengoleksi banyak rekaman para qaari’ dan menirukan bacaan serta iramanya. Namun justru mereka lalai terhadap esensi dari apa yang dibaca.
Syaikh Shalih Al Fauzan menyebutkan, “orang-orang membaca Al Qur’an, memperbanyak bacaannya, mengkhatamkannya berkali-kali, menghafalnya, mentartilkannya, mereka sangat perhatian pada lafadz-lafadz dan tajwidnya. Sangat perhatian pada hukum-hukum mad, hukum-hukum idgham, ghunnah, iqlab, izhar, ikhfa, dan mencurahkan perhatian yang sangat besar dalam hal itu. Ini memang baik. Namun tujuan yang lebih urgen bukanlah ini. Tujuan yang lebih urgen adalah mentadabburinya, memahami Kitabullah, dan mengembalikan amalan kita serta amalan manusia kepada Kitabullah, apakah amalan-amalan tersebut sesuai dengan Kitabullah atau bertentangan?” (Syarh Al Ushul As Sittah, 13).

Tantangan berat bagi pada da’i tauhid

Beliau juga mengatakan, “bahkan jika ada seorang da’i yang ingin memperbaharui kebiasaan buruk yang ada pada diri mereka, mereka akan marah dan menuduhnya berbuat kesesatan. Bahkan mereka juga menuduhnya telah keluar dari ajaran agama, atau ia telah membaca ajaran baru, dan tuduhan-tuduhan lainnya” (Syarh Al Ushul As Sittah, 12).
Sudah menjadi sebuah keniscayaan bahwa orang mendakwahkan untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah, mengajak manusia untuk bertauhid yang benar dan meninggalkan kesyirikan, akan mendapat penentangan dari orang-orang. Hal itu tidak akan membuat mereka menjadi rendah dan hina, justru akan mengangkat derajat mereka di sisi Allah. Justru orang-orang yang menyelisih Al Qur’an dan sunnah yang hakikatnya hina dan rendah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
نَّ اللهَ يرفعُ بهذا الكتابِ أقوامًا ويضعُ به آخرِينَ
Allah mengangkat derajat kaum-kaum dengan Al Qur’an ini, dan merendahkan kaum-kaum yang lainnya dengannya” (HR. Muslim).

Mereka telah didahului oleh para Nabi dan Rasul Allah yang juga mengalami hal yang serupa, bahkan lebih dahsyat lagi. Oleh karena itu Allah menghibur Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam serta para da’i ilallah yang berjalan di atas jalannya:
مَا يُقَالُ لَكَ إِلَّا مَا قَدْ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِنْ قَبْلِكَ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغْفِرَةٍ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٍ
Tidaklah ada yang dikatakan (oleh orang-orang kafir) kepadamu (wahai Muhammad) kecuali sesungguhnya hal serupa telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih” (QS. Fushilat: 43).
Semoga kita dimasukkan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa mempelajari, merenungkan dan mengamalkan kandungan Al Qur’an. Semoga kita digolongkan menjadi orang-orang yang bertauhid dan dijauhkan sejauh-jauhnya dari kesyirikan. Wallahu waliyu dzalika wal qaadiru ‘alahi.
***
Penulis: Yulian Purnama
Artikel Muslim.or.id

Ramadha Bulan Al Quran

Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil


Allah –Subhanahu wa Ta’ala– berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَ الْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan yang di dalamnya –mulai- diturunkannya Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang nyata yang menunjuk kepada kebenaran, yang membedakan antara yang haq dan yang bathil.” (QS Al-Baqarah: 185)
Al-Hafizh Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Bashrawi Ad-Dimasyqi (700-774) yang lebih terkenal dengan sapaan Ibnu Katsir –rahmatullah ‘alaih-, berkata mengenai ayat ini dalam Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim (I/460-461 –Darul Hadits), “Allah menyanjung bulan puasa disbanding bulan-bulan lain dengan dipilihnya sebagai waktu diturunkannya Al-Quran Al-‘Azhim. Karena hal ini pula Dia mengistimewakannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kitab-kitab suci diturunkan kepada para nabi –‘alaihimussalam– di bulan ini. Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– [Al-Musnad VI/107] berkata, Abu Sa’id Maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami, ‘Imran Abul ‘Awwam telah bercerita kepada kami, dari Qatadah, dari Abul Malih, dari Watsilah yaitu Al-Asqa’, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,
أنزلت صحف إبراهيم في أول ليلة من رمضان ، و أنزلت التوراة لست مضين من رمضان و الإنجيل لثلاث عشر خلت من رمضان و أنزل الله القرآن لأربع و عشرين خلت من رمضان
Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan pada enam Ramadhan, Injil diturunkan pada tiga belas Ramadhan, dan Allah menurunkan Al-Quran pada dua puluh empat Ramadhan.”
Telah diriwayatkan pula hadits dari Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhu-. Di dalamnya disebutkan, “Bahwasannya Zabur diturunkan pada dua belas Ramadhan dan Injil pada sepuluh Ramadhan.” Sementara yang lainnya sebagaimana di atas yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih.
Adapun Shuhuf, Taurat, Zabur, dan Injil, maka diturunkan secara spontan kepada nabi yang menerima. Sedangkan Al-Quran diturunkan secara spontan di Baitul ‘Izzah yang berada di langit bumi. Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan di lailatul qadar, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Kami telah menurunkannya di lailatul qadar,” juga pernyataan-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya di malam yang penuh keberkahan.” Kemudian setelah itu turun berangsur-angsur berdasarkan pristiwa-pristiwa yang dialami Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” Selesai keterangan Ibnu Katsir.
Al-Quran merupakan mukjizat Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang paling agung dan akan terus nampak hingga akhir zaman. Keberkahannya terus mengalir dan tak akan pernah terputus. Sebuah kitab suci yang akan selalu membimbing seorang muslim menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Orang yang menjadikannya imam, akan selamat dengan izin Allah, namun siapa yang tak menghiraukannya, maka cepat atau lambat kebinasaan akan menghampirinya.
Keberkahan Al-Quran nampak jelas dengan adanya riwayat-riwayat yang mengabarkan akan keutamaan dan keistimewaannya. Ia merupakan pedoman hidup seorang muslim, obat dari segala penyakit badan dan hati, dan banyak keistimewaan lainnya. Allah berfirman:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَ رَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ لَا يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan Al-Quran (Sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zhalim hanya akan menambah kerugian.” (QS Al-Isra’ : 82)
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan, Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Quran), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Namun alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi)
Dari Abu Umamah Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, Aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Bacalah Al-Quran. Sebab pada hari kiamat ia akan datang sebagai pemberi syafaat bagi pengembannya.” (HR Muslim)
Diriwayatkan pula dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkannya, pada hari kiamat orang tuanya akan dikenakan mahkota yang cahanya lebih bagus daripada cahaya matahari yang masuk ke rumah-rumah di dunia. Lantas bagaimana menurut kalian dengan orang yang mengamalkannya?” (HR Abu Dawud dan Al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Sanadnya shahih)
Berikutnya, ‘Abdullah bin ‘Amr –radhiyallahu ‘anhuma– meriwayatkan, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Puasa dan Al-Quran akan datang pada hari kiamat untuk mensyafaati hamba. Puasa berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya dari makanan dan minuman di siang hari, oleh karena itu izinkanlah aku memberinya syafaat.’ Al-Quran berkata, ‘Wahai Rabb-ku, aku telah mencegahnya tidur malam, oleh sebab itu berilah aku izin untuk memberinya syafaat.’ Maka keduanya pun memberi syafaat.” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ath-Thabrani, dan Al-Hakim)
Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menunjukkan akan keutamaan membaca Al-Quran.

Al-Quran di Bulan Ramadhan

Orang-orang terdahulu memiliki perhatian luar biasa kepada bulan Ramadhan ini. Perhatian mereka ditunjukkan jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba. Disebutkan bahwa para shahabat –radhiyallahu ‘anhum ajma’in– selama enam bulan pertama memanjatkan doa kepada Allah agar mereka disampaikan di bulan Ramadhan, kemudian di enam bulan setelahnya mereka berdoa agar mereka dipertemukan dengan bulan mulia ini. Hal semacam ini tentu merupakan bukti kuat akan antusias kuat mereka dalam menggapai pahala besar padahal secara umum mereka telah dijamin masuk surga.
Jika mereka yang jelas-jelas manusia yang dijamin surga saja begitu hebatnya dalam berlomba-lomba dalam kebaikan, tentu kita sebagai manusia belakangan yang tidak ada yang menjamin surge, tentu lebih berhak untuk banyak melakukan ibadah.
Terkhusus aktifitas membaca Al-Quran, mereka memiliki perhatian yang sangat. DalamLathaif Al-Ma’arif, Ibnu Rajab –rahmatullah ‘alaih– menjelaskan, “Kebiasaan orang-orang terdahulu di bulan Ramadhan ialah membaca Al-Quran dalam shalat dan selainnya.”
Ini dia Jibril –‘alaihissalam– selalu mendatangi baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di setiap Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Pengkhususan Jibril bulan Ramadhan tentu menjadi sinyal kuat bahwa Ramadhan benar-benar waktu istimewa sehingga ia pantas menjadi waktu tadarus Al-Quran.
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau menceritakan, “Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan sosok yang paling dermawan. Terlebih lagi di bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpainya untuk mengajarinya Al-Quran. Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan untuk mengajarinya Al-Quran. Maka ketika Jibril menjumpainya, beliau adalah orang yang paling dermawan, lebih dari angin yang bertiup.”
Mengenai riwayat ini, Ibnu Rajab menuturkan (Lathaif Al-Ma’arif: 243), “Dalam hadits Ibnu ‘Abbas bahwa tadarus yang berlangsung antara beliau (Nabi –shallahu ‘alaihi wa sallam-) dan Jibril di malam hari menunjukkan sunnahnya memperbanyak membaca Al-Quran malam hari di bulan Ramadhan. Sebab, di malam hari sudah tidak ada lagi kesibukkan, semangat menguat, hati dan lisan akan saling bersepakat untuk tadabbur, berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS Al-Muzammil : 6)”
Lihatlah Amirul Mukminin ‘Utsman bin ‘Affan –radhiyallahu ‘anhu– bagaimana beliau bersama Al-Quran di bulan Ramadhan. Dikhabarkan bahwa beliau menghidupkan seluruh malamnya. Beliau membaca Al-Quran di setiap rakaat shalat yang beliau kerjakan.
Ini dia shabat Ubai bin Ka’b –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mampu mengkhatamkan Al-Quran di setiap delapan harinya. Sementara shabat Tamim Ad-Dari mampu mengkhatamkannya dalam setiap pekannya.
Imam kita, Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahmatullah ‘alaih-, bahkan di bulan berkah ini mampu mengkhatamkan Al-Quran sebanyak enam puluh kali selain Al-Quran yang beliau baca di waktu shalat.
Adalah Qatadah –rahmatullah ‘alaih– biasa mengkhatamkan Al-Quran setiap pekannya. Jika datang bulan Ramadhan, beliau mampu mengkhatamkannya setiap tiga harinya dan di sepuluh hari terakhirnya beliau mampu mengkhatamkannya di setiap malamnya. (Lathaif Al-Ma’arif : 191)
Diriwayatkan pula bahwa Ibrahim An-Nakha’i melakukan hal itu khusus di sepuluh hari terakhir saja, sedangkan untuk sisa bulannya dalam tiga hari sekali. (Lathaif Al-Ma’arif: 191).
Disebutkan pula bahwa Qatadah biasa mengajar Al-Quran di bulan Ramadhan.
Imam Malik bin Anas Al-Asbahi yang bergelar Imam Darul Hijrah yang memiliki pengajian dengan hadhirin yang luar biasa banyaknya, belau rela meninggalkan pengajiannya itu dan bergegas membaca Al-Quran.
‘Abdurrazzaq menceritakan, “Apabila Sufyan Ats-Tsauri menjumpai bulan Ramadhan, beliau biasa meninggalkan seluruh ibadah (sunnah) dan bergesa membaca Al-Quran.”
Sufyan meriwayatkan, “Apabila Zubaid Al-Yami memasuki bulan Ramadhan, beliau mendatangkan Al-Quran dan mengumpulkan murid-muridnya.”
Muhammad bin Mas’ar menceritakan, “Ayah saya tidak pernah tidur sampai beliau membaca setengah Al-Quran.” (Lathaif Al-Ma’arif : 318-319)
Jika ada yang bertanya, bagaimana mungkin mereka mengkhatamkan Al-Quran kurang dari 3 hari sementara Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melarang hal tersebut?
Berikut adalah jawaban Ibnu Rajab, “Adapun larangan mengkhatamkan Al-Quran lebih dari malam, maka itu khusus jika dilakukan terus-menerus. Sedangkan di waktu-waktu yang memiliki keistimewaan sebagaimana bulan Rhamadhan terkhsus malam-malam yang di dalamnya diburu lailatul qadar, atau di tempat-tempat yang memiliki keutamaan seperti Makkah bagi orang-orang asing yang memasukinya, maka disunnahkan memperbanyak membaca Al-Quran sebagai bentuk perhatian pada zaman dan tempat. Inilah hemat Ahmad, Ishaq, dan imam-imam lain. Ini pula lah yang dipraktekkan selain mereka sebagaiman yang disebutkan di atas.” (Lathaif Al-Ma’arif: 319)
Kiranya cerita-cerita di atas sudah cukup dijadikan sebagai motofasi dan penyemangat bagi orang-orang yang mencari akhirat. Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Adab Al-Atsyubi –hafizhahullah– dalam Qurrah ‘Ain Al-Muhtaj (I/6) memberikan penjelasan, “Orang yang cerdas akan faham hanya dengan isyarat yang tidak difahami orang bodoh meski dengan seribu ungkapan. Orang yang dungu juga tak akan memperoleh faidah meski dibacakan Taurat dan Injil”.
Semoga Allah Jalla wa ‘Ala memberikan kita kekuatan untuk bisa lebih memanfaatkan bulan Ramdahan kali ini dan bulan-bulan lainnya dalam beribadah kepada Allah seiring berkurangnya jatah hidup di dunia.
Semoga shalawat beriringan salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarga, shahabat, dan semua orang yang senantiasa menampakkan dan menghidupkan ajaran beliau hingga hari akhir.
Penulis: Firman Hidayat

Agar Gemar Membaca Al Quran di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan, dikenal juga dengan ‘Bulan Al Qur’an’ karena pada bulan inilah AlQur’an diturunkan

Allah Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” Qs Al Baqarah : 185

Bersungguh sungguhlah untuk memperbanyak bacaan Al-Quran yang penuh berkah, terutama pada bulan ini, bulan diturunkannya Al-Qur’an. pembacaan AlQu’an pada bulan ini memiliki keistimewaan tersendiri. Dahulu Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam setiap tahun sekali pada bulan ramadhan. Pada tahun wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam Jibril mendatangi dan mengajarkan Al-Qur’an kepada beliau sebanyak dua kali untuk mengokohkan dan memantapkannya.

Para salafus shaalih rahimahumullah memperbanyak membaca AlQur’an pada bulan ramadhan, baik di dalam maupun di dalam shalat. Berikut ini adalah beberapa contohnya.

Imam az-zuhri rahimahullohu berkata, pada saat memasuki bulan ramadhan, “Ini adalah bulan pembacaan AlQur’an dan pemberian makanan.”

Ketika memasuki ramadhan, Imam malik rahimahulloh meninggalkan pembacaan hadits dan majelis majelis ilmu lalu beliau memfokuskan diri untuk membaca AlQur’an dengan memakai mushaf.
Qatadah selalu mengkhatamkan Qur’an setiap tujuh malam, namun pada bulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan Al-Quran dalam tiga hari, bahkan pada sepuluh malam terakhir, beliau mengkhatamkannya setiap malam.

Ibrahim an Nakha’i rahimahullah menkhamkan Al-Quran setiaptiga malam da pada sepuluh malam terakhir beliau mengkhatamkannya tiap dua malam.
Adapun Al-Aswad rahimahulloh, beliau membaca seluruh ayat alQur’an setiap duahari pada setiap bulan.

Maka, jadikanlah orang orang pilihan tersebut sebagai teladan kalian. Ikutilah jalan mereka dan pergunakanlah kesempatan pada waktu siang dan malam dengan sebaik baiknya untuk mendekatkan diri kalian kepada Yang maha Perkasa lagi maha Pengampun. Ketahuilah, umur itu hilang dengan cepat dan waktu itu akan sirna seluruhnya, seolah olah hanya sekejap mata saja.

Disalin dari Majelis Bulan Ramadhan – Syaikh Muhammad bin Shalih al- Utsaimin -rahimahulloh-, Pustaka Imam Syafi’i

Meraih Kesempurnaan Puasa Ramadhan

Written By Pusat Al Qur'an Indonesia on Jumat, 26 Juni 2015 | 09.29

Ramadhan telah tiba, gaungnya kembali menggema diseluruh penjuru dunia. Lantunan tadarus Al Quran, takbir, tasbih, tahmid dan shalawat senantiasa terdengar bukan hanya dari surau dan masjid saja, di pasar, kantor bahkan stasiun kereta sekalipun banyak kita dapati kekentalan nuansa amaliyah ramadhan. Sangat terlihat dengan jelas betapa sengitnya suasana kompetisi umat islam dalam meraih nilai yang sempurna di bulan ramadhan. Mereka berusaha meraihnya dengan menjalankan berbagai amalan baik fardhu ataupun yang disunnahkan, terutama ibadah Shaum selama satu bulan.
Berikut ini adalah langkah-langkah meraih kesempurnaan Shaum Ramadhan sesuai dengan bimbingan Rosulullah saw.
Bersantap sahur untuk menyempurnakan keberkahan puasa dan menambah kekuatan fisik dalam menjalankannya. 

Rosulullah saw bersabda :
“Bersantap sahurlah kalian, sungguh, didalam sahur itu terdapat barakah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

“Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan Qailullah (tidur siang).” (HR Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya)

Akan lebih sempurna jika santap sahur diakhirkan waktunya, akan tetapi harus tetap berhati-hati agar tidak melampaui waktu sahur dengan berhenti beberapa saat sebelum terbit fajar.

Segeralah berbuka jika waktu maghrib telah tiba.

Rosulullah saw bersabda :
“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan santap sahur.” (HR Al-Bukhari, Muslim dan At-Tirmidzi)

Memperbanyak membaca Al Quran

Rosulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya, Jibril Alaihis salam selalui menemui Nabi Muhammad saw. pada setiap malam di bulan ramadhan untuk membacakan Al Quran baginya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Menjaga lisan dengan hanya mengatakan yang benar lagi baik.

Rosulullah saw bersabda :
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan  dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR Al-Bukhari)

Meningkatkan kesabaran dalam menahan emosi dengan tidak berkata buruk, kasar dan membalas gunjingan orang lain dengan cacian.

Rosulullah saw bersabda :
“Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang diantara kalian sedang berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila ada seseorang yang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa’.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Jangan malu untuk berlatih merubah kebiasaan buruk menjadi lebih baik dibulan ramadhan baik dari segi pakaian, perkataan dan cara bergaul.

Rosulullah saw bersabda :
“Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, dan jangan kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari ketika kamu berpuasa.” (HR Baihaqi)
Kemenangan di bulan ramadhan hanya akan diraih oleh orang yang mampu menyempurnakan ibadahnya dengan diiringi do’a, istighfar dan ketawadhuan. Semoga Allah swt memberikan kita kemampuan untuk menyempurnakan ibadah shaum ramadhan.

Oleh Muhammad Hasan Hidayatulah

Sahur perdana santri asuh ashabul qur'an

Written By RULLY OKTOBERYANTO on Kamis, 18 Juni 2015 | 04.29

Alhamdulillah Ramadhan kembali menyapa. Semoga Ramadhan tahun menjadi yang terbaik dalam kehidupan kita. Amin

Persiapan Percetakan Al Qur'an Wakaf PAI

Written By RULLY OKTOBERYANTO on Senin, 15 Juni 2015 | 07.27

Alhamdulillah PAI beberapa waktu yang lalu mengadakan lelang amal Mesin Cetak Al Quran Wakaf dan saat ini Mesin Cetak sudah tiba di PAI. 2 pekan ini sedang dilaksanakan pelatihan operasional mesin cetak tersebut. Mohon doanya agar segera beroperasi mencetak Al Qur'an

Mabit Al Qur'an Santri Pulau Penyengat

Salah satu program yang dijalankan oleh Pusat Al Qur'an Indonesia adalah pembinaan para penghafal alquran di Pulau Penyengat. Pada hari sabtu kemarin diadakan program Mabit untuk para santri penghafal al quran di pulau penyengat. Acara ini diikuti lebih kurang 100 anak.

Menangis di Malam Pertama

Written By Pusat Al Qur'an Indonesia on Rabu, 20 Mei 2015 | 13.23

“Saat malam pertama… aku menangis,” kata seorang teman membuka kisahnya kepada kami. Suasana santai mendadak berubah mendengar kata-kata itu. Sebagian dari kami jadi tidak sabar menunggu kalimat berikutnya. Mengapa seorang pengantin pria menangis di malam yang seharusnya membahagiakan?
“Mengapa kamu menangis di saat bahagia seperti itu?,” pertanyaan salah seorang teman mewakili ketidaksabaran kami.
“Aku menangis karena terbebani pikiran, bagaimana cara mengembalikan hutang untuk resepsi siang tadi,” jawabnya seraya mencertakanlebih lanjut tentang resepsi pernikahannya yang menelan biaya besar sementara kemampuan finansialnya terbatas. Keluarga terpaksa berhutang.
Ada hikmah berharga dari apa yang dialami teman saya ini. Karena tuntutan sosial, gengsi, atau keinginan agar hari pernikahan menjadi momen istimewa, kita terjebak pada sikap berlebihan saat melangsungkan walimah atau resepsi pernikahan. Mulai dari undangan yang lux, gedung yang megah dan mahal, bahkan ditambah dengan hiburan. Padahal pernikahan tetaplah istimewa meskipun walimahnya sederhana. Yang membuat istimewa adalah akad nikahnya, janji sucinya, ikatan kuatnya, perubahan hubungan dua insan yang semula bukan mahram kini menjadi sepasang suami istri.
Memperturutkan tuntutan sosial atau gengsi, banyak orang yang akhirnya rela berhutang besar demi sebuah resepsi pernikahan yang glamour. Mereka seperti membeli kesenangan dengan membayarnya selama bertahun-tahun ke depan. Hingga ada yang kepikiran seperti teman tadi.
Ada pula yang karena ingin menggelar resepsi yang mahal seperti itu, akhirnya ia menunda pernikahan selama bertahun-tahun. “Belum punya uang untuk walimah,” alasannya. Padahal kalau mau mencontoh kemudahan yang dituntunkan Rasulullah kepada para sahabatnya di Madinah, ia telah mampu. Bukankah pernah Rasulullah ‘menegur’ Abdurrahman bin Auf yang menikah tanpa walimah? “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing,” demikian kira-kira pesan Rasulullah kepada sahabatnya yang pebisnis itu. Memang saat itu Abdurrahman bin Auf baru merintis bisnis setelah hijrah, namun ia adalah saudagar kaya semasa di Makkah. Dan tak lama setelah itu ia juga kembali menjadi kaya raya.
Rasulullah sendiri saat menikah di Madinah juga sederhana dalam walimah. Seperti diriwayatkan Imam Bukhari. “Tidaklah aku saksikan bagaimana Rasulullah menyelenggarakan walimah untuk istri beliau seperti yang aku saksikan saat beliau menikahi Zainab,” kata Anas bin Malik menceritakan walimah nan suci itu, ”Beliau menyembelih seekor kambing.”
Jadi, menikah itu tak harus mahal. Tak harus menyusahkan diri dengan berhutang banyak. Apalagi soal mahar, di negeri ini juga sangat dipermudah. Sebagaimana Rasulullah telah mempermudah para sahabatnya yang menikah. Yang tidak memiliki banyak harta, Rasulullah cukup menyarankan mahar cincin, bahkan ada yang cincin besi. Yang tidak punya lagi, cukup mengajari istrinya hafalan Al Qur’an. Bukankah sangat mudah?
Dalam Islam, walimah itu yang terpenting adalah i’lan-nya: pengumuman sehingga masyarakat tahu bahwa seorang muslim dan seorang muslimah telah menikah, membentuk sebuah keluarga baru.
Maka bagi Antum yang belum menikah, sesuaikanlah walimah dengan kemampuan finansial. Jangan berlebih-lebihan. Dan semoga tidak ada lagi pengantin yang menangis di malam pertama karena terbebani biaya walimah dan tak ada pemuda yang menunda-nunda pernikahan dengan alasan tidak kuat menanggung biaya walimah.
Sumber : http://bersamadakwah.net/
 
Copyright © 2011. Pusat Al Quran - All Rights Reserved
Template Published by Mas Template Redesigned by Pusatalquran.com,
Proudly powered by Blogger