Artikel Terbaru

Penyerahan Beasiswa Penghafal Al Quran oleh Pusat Al Quran Indonesia untuk Mahasiswa Penghafal Al Quran Ma'had Aly An Nu'aimy

Written By pusat alquran on Rabu, 22 Oktober 2014 | 10.11


Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Kami ucapkan terimakasih kepada para "Orang Tua Asuh Hafidz Qur'an" Pusat Al Quran Indonesia atas bantuan yang telah diberikan dalam program pembinaan penghafal Al Quran nusantara.

Pada tanggal 20 Oktober 2014kembali kami salurkan bantuan berupa beasiswa untuk satu tahun bagi sepuluh (10) orang penghapal Al Quran di jakarta.

Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama antara Pusat Al Quran Indonesia dengan Ma'had Aly An Nuaimy Jakarta. 

Semoga beasiswa yang telah bapak dan ibu berikan menjadi saksi dihadapan Allah swt. bahwa kita benar-benar mencintai Al Qur'an dan berusaha menghapalnya serta mendorong para pemuda muslim untuk bisa menghapal dengan membiayai kegiatan mereka.

Bagi anda yang belum mendaftar untuk menjadi "Orang Tua Asuh Hafidz Qur'an" segera daftarkan diri anda melalui sms

Ketik : Ortuasuh # Nama # Alamat lengkap # Email # No telephon
kirim ke : 0812 71 222 111

Dengan berinfaq Rp 100.000 rupiah setiap bulannya, Anda telah menjadi "Orang Tua Asuh para Hafidz Qur'an"

Infaq dapat anda salurkan Via 

Bank Muamalat Indonesia 
a.n Tabung Amal

No Rek : 452 000 2574



Pengantar Ilmu Tajwid

Written By pusat alquran on Senin, 20 Oktober 2014 | 11.48

Definisi Ilmu Tajwid

Seseorang yang membaca Al Quran, baik tanpa lagu maupun dilagukan dengan indah dan merdu, tidak boleh terlepas dari kaidah-kaidah tajwid. Tajwid (تَجْوِيْدٌ) merupakan bentuk mashdar, dari fi’il maadhi (جَوَّدَ) yang berarti membaguskan, menyempurnakan, memantapkan. Pendapat yang lain tentang pengertian tajwid adalah : اَلاِتْيَانُ بِالْجَيِّدِ yang berarti “memberikan dengan baik”.

Menurut istilah :

اَلتَّجْوِيْدُ هُوَ عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ إِعْطَاءُ كُلِّ حَرْفٍ حَقَّهُ وَ مُسْتَحَقَّهُ مِنَ الصِّفَاتِ وَ الْمُدُوْدِ وَ غَيْرُ ذَلِكَ كَالتَّرْقِيْقِ وَ التَّفْخِيْمِ وَ نَحْوِهِمَا.
“Ilmu Tajwid adalah ilmu yang berguna untuk mengetahui bagaimana cara memenuhi/memberikan haq huruf dan mustahaqnya. Baik yang berkaitan dengan sifat, mad dan sebagainya, seperti tarqiiq dan tafkhiim dan selain keduanya.” (Hidaayatul mustafiid)

Yang dimaksud dengan haq huruf adalah sifat asli yang selalu bersama, seperti sifat al hams, al jahr, al isti’la’, asy syiddah dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahaq huruf adalah sifat yang tampak sewaktu-waktu seperti tafkhiim, tarqiiq, ikhfaa dan lain sebagainya.

Dasar Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum mempelajari ilmu tajwid dapat diketahui pada uraian di bawah ini :

اَلْعِلْمُ بِهِ فَرْضُ كِفَايَةٍ وَ الْعَمَلُ بِهِ فَرْضُ عَيْنٍ عَلىَ كُلِّ قَارِئٍ مِنْ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ.

“Mempelajari ilmu tajwid (hukumnya) fardhu kifaayah dan mengamalkannya fardhu ‘ain bagi setiap pembaca Al Quran (qaari’) dari umat Islam (laki-laki dan perempuan).” (Hidaayatul mustafiid)

1.      1.Dasar hukum dari Al Quran

Firman Allah Ta’ala :
وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيْلاً
“...dan bacalah Al Quran dengan tartiil.”(Q.S. Al Muzzammil:4)

Pada suatu hari sahabat Ali radhiallahu ‘anhu, ditanya tentang arti tartiil, beliau menjawabnya :

“Tartiil ialah membaguskan huruf-hurufnya dan mengetahui tempat-tempat berhentinya.”

1.      2. Dasar hukum dari Hadits

سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ بِسْمِ اللهِ الرَّحِمَنِ الرَّحِيْمِ يَمُدُّ بِبِسْمِ اللهِ وَ يَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَ يَمُدُّ بِالرَّحِيْمِ. )رواه البخارى(
“Anas bin Malik ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi SAW maka ia menjawab bahwa bacaan beliau itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca “bismillaahirrahmaanirrahiim” memanjangkan (bismillaah) serta memanjangkan (Ar Rahmaan) dan memanjangkan (Ar Rahiim).” (HR. Bukhaari)

Dan juga perintah Nabi SAW kepada sahabat agar mengambil bacaan dari sahabat yang mampu dalam bidang ini sebagaimana sabda beliau :

“Dari Abdullah bin Amr berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, Belajar Al Quran lah kalian pada empat orang ; Abdullah bin Mas’ud, beliau memulai dengan menyebut Ibnu Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifa, Ubay bin Ka’ab, dan Mu’adz bin Jabal.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ini adalah para sahabat yang mulia, padahal mereka itu orang-orang yang paling fasih dalam pengucapan Al Quran tapi masih disuruh belajar, lalu bagaimana dengan kita, orang asing yang lisan kita jauh dari lisan Al Quran?

Imam Ibnul Jazari mengatakan dalam nazhamnya :

وَ الأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لاَزِمٌ  مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرْآنَ أَثِمٌ
لِأَنَّهُ بِهِ اْلإِلَهُ أَنْزَلَ    وَ هَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلَ

“Membaca Al Quran dengan tajwid hukumnya wajib, barangsiapa yang membacanya tidak dengan tajwid ia berdosa, karena dengan tajwidlah Allah menurunkan Al Quran dan demikianlah Al Quran sampai kepada kita dari-Nya.” (Ghaayatul Muriid fii Ilmi At Tajwiid). (Disarikan dari buku Panduan Tahsin Tilawah Al Quran & Ilmu Tajwid)



"Jika Kau Bertahan Hidup, Ingatlah Bahwa Aku Mencintaimu"

Written By pusat alquran on Sabtu, 18 Oktober 2014 | 09.35

Bencana selalu menyisakan luka. Selalu ada kisah dan cerita yang mengiringinya. Manis dan pahit sejatinya adalah dinamika yang silih berganti. Maka dalam kepahitan peristiwa, selalu ada manis yang layak untuk diteladani dan dikenang. Begitupun sebaliknya, dalam kebahagiaan kisah, barangkali ada getir yang mengiringi.
Bencana tsunami yang melanda negeri Jepang tahun 2011 merupakan bencana terbesar sejak 140 tahun di negara itu. Meski sekarang mereka telah berhasil keluar dari krisis yang disebabkannya, banyak kisah inspiratif yang kemudian beredar sebagai sebuah kenyataan perjuangan.
Beberapa saat setelah keadaan memungkinkan untuk dilakukan evakuasi, tim pencari korban terus merangsek ke segala penjuru. Tak terkecuali, rumah-rumah yang roboh menjadi sasaran pencarian mereka.
Di salah satu rumah itu, terlihatlah sesosok tubuh dalam keadaan membungkuk dengan kedua tangannya menyanggah bangunan yang roboh. Ia tampak melindungi sesuatu. Dengan antusias, anggota tim mendatanginya, berharap sosok itu masih bernyawa. Ternyata, tubuhnya sudah dingin dan tak ada tanda-tanda kehidupan dalam sosok itu.
Tim pun beranjak menuju tempat lain, berpikir mencari korban yang barangkali masih bisa diselamatkan secepat mungkin. Namun, entah karena dorongan apa, sang komandan tim kembali kepada sosok membungkuk yang sudah tak bernyawa itu.
Setelah memerhatikan dengan saksama, ternyata ia tengah melindungi bayi yang tengah tertidur pulas. Sesegera mungkin, ia memerintahkan timnya untuk melakukan evakuasi secepat mungkin untuk menyelamatkan sang bayi. Ternyata bayi yang terlindungi itu terlelap dalam tidurnya di tengah reruntuhan bangunan.
Berkat kerjasama nan sinergi, bayi itu pun berhasil dikeluarkan dengan tanpa luka sedikit pun. Ia juga tak terbangun dari tidur nyenyaknya itu. Ketika diangkat untuk digendong oleh salah satu tim, ternyata di balik selimut sang bayi terdapat ponsel yang sepertinya sengaja diselipkan.
Sebab penasaran, diambillah ponsel tersebut. Selepas dibuka, ada pesan tersimpan di draft pesan. Sosok pembuka pertama, sama sekali tak bisa berkata-kata selepas membaca pesan itu. Ia hanya mengulurkan ponsel itu agar dibaca oleh rekannya. Hingga ponsel itu berkeliling kepada seluruh tim, semuanya masih terdiam.
Ternyata, sosok yang membungkuk seraya melindungi sang bayi adalah ibunya. Pesan dalam ponsel itu juga sengaja ditulisnya untuk disampaikan kepada sang anak, kelak selepas ia dewasa. Di dalam ponsel itu, tertulis jelas sebuah pesan cinta, “Jika kau bertahan hidup, ingatlah bahwa aku mencintaimu.”
Begitulah ibu. Kasih sayangnya sepanjang masa. Cintanya sama sekali tak bertepi. Pengorbanannya benar-benar tak tergantikan oleh apa pun. Semoga seluruh ibu di dunia ini senantiasa diberkahi oleh Allah Yang Mahakuasa.

Sumber : [http://kisahikmah.com/]

25 Tahanan Mesir Berhasil Menghafal Al Quran 30 Juz

Hari Jum'at pekan lalu, 10 Oktober 2014 sebanyak 25 orang tahanan di penjara Jamashah yang pengawasannya sangat ketat, diwisuda atas keberhasilan mereka menghafal Al Quran 30 Juz.

Keluarga tahanan menginformasikan bahwa ini adalah acara wisuda kedua tahun ini yang diadakan oleh sesama tahanan di dalam penjara.

Meskipun keadaan yang dihadapi oleh para tahanan sangat berat, namun mereka tidak membiarkan waktu berlalu sia-sia. Mereka saling membantu untuk menghafalkan Al Quran dan berbagi ilmu sesama mereka.

Makanya tidak heran bila orang-orang yang keluar dari penjara keilmuan mereka bisa melebihi mahasiswa yang duduk di bangku kuliah. Seperti yang dialami oleh Sayyid Quthb, Syeikh Yusuf Al Qardhawy, Syeikh Muhammad Al Ghazali, Syeikh Sayyid Sabiq, Syeikh Abdul Hamid Kisyk dan yang lainnya. 



Sumber : [http://www.islamedia.co/]

Khalifah Abu Bakr Dan Nenek Tua Di Gubuk Reot

Written By pusat alquran on Jumat, 17 Oktober 2014 | 08.46

Suatu ketika, Umar bin Khaththab memata-matai Khalifah Abu Bakar as-Shidiq yang setiap pagi usai subuh ia pergi ke ujung kota, memasuki salah satu rumah beberapa jam hingga kemudian keluar dan pergi. Terus seperti itu setiap hari. Umar tidak tahu sama sekali siapa pemilik rumah tersebut dan apa yang dikerjakan oleh pimpinan Islam kala itu.
Waktu terus berjalan, mertua Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang masih menjabat tahta khalifah tersebut masih konsisten menjalani ritual paginya dengan pekerjaan yang 'aneh' itu; yaitu pergi ke ujung kota, masuk rumah reot beberapa jam hingga kemudian keluar dan pergi.
Saking penasaran, sayiduna Umar bin
Khaththab memutuskan untuk memasuki rumah reot tersebut setelah Khalifah keluar darinya, guna mengetahui siapa penghuninya dan apa yang dikerjakan oleh pribadi agung yang menjabat posisi terpenting dalam Islam setiap pagi.

Ketika ia masuk, yang ia dapati hanya orang tua renta tunanetra (buta) yang tidak mampu bekerja. Umar tertegun. Ia bertanya-tanya tentang apa yang ia saksikan di depan mata dan apa gerangan yang dikerjakan oleh Khalifah setiap pagi dirumah tersebut.
Umar memberanikan diri untuk bertanya, "apa yang dikerjakan orang laki-laki itu (maksutnya Abu Bakar), nek?"
"Demi Allah, aku tidak tahu sama sekali, nak. Laki-laki itu datang kesini setiap pagi, membersihkan dan menyapu rumahku kemudian ia menyiapkan makanan untukku. Setelah itu ia keluar rumah tanpa bercakap apapun." Nenek menerangkan.
Mendengar hal ini, Umar jatuh bersimpuh dengan lututnya. Ia menangis menumpahkan air mata haru dan sedihnya. Ia berkata "pemimpin (khalifah) setelahmu nanti tidak akan mampu, wahai Abu Bakar".

Sumber : [suara Al-Azhar]

Mualaf Yang Memiliki Pengaruh Besar Dalam Sejarah Islam

Written By pusat alquran on Kamis, 16 Oktober 2014 | 14.18

Keluarga Barmakid (600 M – 900 M)
Keluarga Barmakid adalah sebuah keluarga Budha yang berpengaruh dari daerah Balkh, sekarang berada di teritorial Afghanistan. Pada saat Dinasti Umayyah menaklukkan daerah tersebut, pada pertengahan tahun 600-an M, keluarga ini pun memeluk Islam. Setelah revolusi Abbasiyah tahun 750 M, keluarga Barmakid mulai menunjukkan bakat mereka sebagai administrator yang handal. Mereka mewarisi pengalaman nenek moyang mereka yang pernah mengurusi birokrasi kerajaan Persia selama berabad-abad. Pengalaman mengurusi birokrasi yang besar inilah yang tidak dimiliki oleh keluarga Abbasiyah.
Sebagai menteri atau pelaksana pemerintahan, keluarga Barmakid memiliki pengaruh yang signifikan dalam stabilitas kerajaan di akhir abad ke-8, Yahya bin Khalid al-Barmaki adalah adalah salah satu contohnya. Yahya ditunjuk sebagai mentor Harun al-Rasyid yang masih belia kala itu. Hasilnya sudah kita ketahui, Harun al-Rasyid dikenal sebagai khalifah terbaik di zaman Abbasiyah dan berhasil membawa kerajaan tersebut mencapai masa keemasan. Di bawah arahan dan bimbingannya, Harun al-Rasyid membangun hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga, menumbuhkan ekonomi progresif, jaminan terhadap para ulama, dan sistem infrastruktur yang menyaingi kemegahan Romawi kuno di zamannya. Keluarga Barmakid lah yang sangat mempengaruhi menajemen perpolitikan dunia Islam yang berlangsung hingga beberapa abad.
Berke Khan (wafat tahun 1266 M)
Ia adalah cucu dari Jenghis Khan sang penakluk dari Mongol. Berke Khan merupakan tokoh penting dalam sejarah Mongol pada pertengahan tahun 1200-an M. Ia adalah raja Dinasti Golden Horde, salah satu generasi yang membawa bangsa Mongol mengecap masa keemasan mereka. Sebagaimana nenek moyangnya, Berke juga menganut paham Shamanisme sebelum ia memeluk Islam. Berke adalah seorang pemimpin yang kuat, ia pernah mengirim pasukan ke Utara pegunungan Kaukasus dan Tenggara Eropa untuk menaklukkan orang-orang Kipchak Turki. Ia juga memobilisasi pasukannya untuk menaklukkan seluruh wilayah Hungaria.
Setelah misi militernya selesai di wilayah-wilayah tersebut, dalam perjalanan pulang menuju Mongol, ia singgah di wilayah Bukhara, tempat dimana rasa keingintahuannya tentang Islam muncul. Lalu ia bertanya tentang Islam kepada penduduk setempat. Mendengar penjelasan-penjelasan tentang Islam, Berke meyakini pesan-pesan yang dibawa oleh agama Islam benar-benar sejalan dengan tujuan penciptaan manusia dan mendamaikan jiwanya yang tidak tenang dalam keyakinan animisme dan dinamisme yang dibawa oleh ajaran Shamaniah. Ia pun memutuskan untuk memeluk agama Islam sekaligus menjadi pemimpin Mongol pertama yang menerima Islam. Keislamannya juga diikuti oleh banyak prajuritnya.
Keislaman Berke dan pasukannya secara otomatis menanamkan jiwa persaudaraan mereka sesama umat Islam. Saat itulah mulai muncul ketegangan ditubuh pasukan Mongol, terutama dengan kubu sepupunya Hulagu Khan dari Dinasti Chagtai. Hulagu Khan adalah penguasa Mongol untuk wilayah bekas-bekas kerajaan Persia, ia dikenal kejam dan sangat mirip dengan kakek mereka Jenghis Khan. Hulagu telah membantai jutaan umat Islam dalam ekspansi-ekspansinya di wilayah-wilayah Islam.
Setelah mendengar jatuhnya Baghdad oleh sepupunya, Hulaghu Khan, pada tahun 1258, dengan penuh keyakinan dan semangat persaudaraan sesama muslim, ia kesampingkan pertalian darah atau nasabnya dengan Hulagu. Ia mengatakan “Hulagu telah memporak-porandakan semua kota-kota Islam dan membunuh khalifah, dengan pertolongan Allah aku akan membalas dan membuat perhitungan dengannya atas banyak darah umat Islam yang ia tumpahkan.” Dengan dukungan pasukan kerajaan Mamluk di Mesir, Berke memobilisasi pasukannya untuk memukul mundur pasukan Hulagu.
Zaganos Pasha (1446–1466 M)
Zaganos Pasha adalah seseorang yang berasal dari Yunani ada juga yang mengatakan seorang Albania. ia direkrut menjadi Yenicheri, korps elit kekaisaran Utsmani. Seperti Yenicheri lainnya, ia dibekali ilmu agama Islam, administrasi pemerintahan, dan pelatihan militer. Ia ditunjuk menjadi mentor dan penasihat calon raja ketujuh Dinasti Utsmani Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Sultan Muhammad al-Fatih yang masih sangat belia.
Saat Mehmed menjabat sebagai raja Utsmani, Zaganos pun diangkat menjadi seorang menteri. Zaganos selalu dilibatkan dalam semua urusan negara, terutama rencana penaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453. Saat penyerangan Konstantinopel, Zaganos ditugaskan mengepung benteng Konstantinopel dari bagian Utara, dan pasukannya merupakan rombongan pertama yang berhasil menyentuh dinding Konstantinopel yang dikenal begitu kokoh. Peninggalan-peninggalan Zaganos masih tersisa di wilayah Edrine berupa masjid, dapur umum, dan pemandian umum.
Ibrahim Muteferrika (1674 – 1745 M)
Isu yang sering diarahkan kepada kerajaan Utsmani adalah ilmu pengetahuan pada masa kerajaan ini tidak berkembang, stagnan, dan sangat minim dengan inovasi, tidak berbanding dengan luasnya wilayah kerajaan dan lamanya masa kekuasaan mereka. Seorang yang berasal dari Hungaria, Ibrahim Muteferrika, mendengar dan mengamati isu yang beredar ini. Sebagai seorang diplomat yang ditugaskan menjembatani hubungan Utsmani dan Eropa, khususnya Prancis dan Swedia, Ibrahim Muteferrika menangkap peluang dari kebangkitan Eropa (Renaissance) dimana penggunaan mesin cetak menjadi budaya baru dan menurut Ibrahim orang-orang Eropa belum optimal menggunakan alat tersebut. Ia pulang ke Istanbul dengan misi mengembangkan inovasi percetakan dengan alat tersebut.
Ibrahim mulai mencetak dan menerbitkan atlas dunia yang berisikan peta-peta berbagai negara, kamus-kamus, dan buku-buku agama. Di antara hasil percetakannya yang paling terkenal adalah sebuah atlas yang dibuat oleh seorang ahli geograpi yang terkenal, Katip Celebi, yang menggambarkan peta dunia di zaman tersebut dengan tingkat detail dan presisi yang luar biasa. Selain mengembangkan percetakan buku-buku, Ibrahim Muteferrika juga menulis beberapa buku tentang sejarah, teologi, sosiologi, dan astronomi.
Alexander Russel Webb (1846 – 1965 M)
Di akhir abad 19, dunia jurnalistik Amerika mulai memasuki era baru. Pengaruh dunia tulis-menulis sangat besar dan efektif dalam membentuk opini di masyarakat. Salah seorang yang berperan dalam perkembangan tersebut adalah Alexander Russel Webb. Awalnya, Webb adalah seseorang yang beragama Kristen, namun semakin hari agama tersebut malah menimbulkan keraguan baginya, hingga hilanglah kepercayaannya dengan agama Kristen.
Setelah kepercayaan terhadap agama Kristen hilang, ia mulai membuka diri dan mempelajari agama-agama selain Kristen. Dan tiba-tiba ia merasakan ketertarikan terhadap Islam. Ketika ditunjuk pemerintah Amerika untuk menjadi salah satu pejabat kedutaan Amerika di Philipina tahun 1887, ia menggunakan kesempatan ini untuk berkorespondensi dengan temannya, seorang penganut Ahmadiyah dari India dan bertanya tentang Islam kepadanya.
Meskipun keislamannya dimulai dengan menganut paham Ahmadiyah, ia terus mengembangkan wawasan keislamannya dengan menuntut ilmu ke berbagai negeri Islam dan bertemu dengan para ulama-ulama Islam sehingga ia mendapatkan pemahaman yang baik tentang Islam dan terlepas dari pengaruh Ahmadiyah.
Tahun 1893, ia mengundurkan diri dari dunia diplomatik dan kembali ke Amerika. Di negeri Paman Sam inilah ia memulai dakwahnya menyeru kepada Islam. Dengan kemampuan jurnalistiknya, ia menulis beberapa buku dan kolom-kolom opini di media masa menjelaskan kepada masyarakat Amerika tentang Islam. Di awal abad 20, ia semakin dikenal sebagai seorang muslim yang giat dan vokal dalam mendakwahkan Islam di Amerika, bahkan Sultan Utsmani, Sultan Abdul Hamid II, memberinya gelar kehormatan dari kerajaan sebagai apresiasi terhadap apa yang telah ia lakukan. Alexander Russel Webb wafat pada tahun 1916 dan dimakamkan di New Jesrey. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya.

Sumber : [http://kisahmuslim.com/]

Al Qur'an Digital Terlengkap

Written By pusat alquran on Senin, 13 Oktober 2014 | 10.37


Banyaknya pengguna komputer, laptop, tablet hari ini, menyebabkan kebutuhan akan software / aplikasi demikian tinggi. Berbagai software dibuat untuk membantu para pengguna komputer. Salah satunya adalah proyek besar dari King Saud University, yaitu membuat Al Qur’an Digital Terlengkap. 

King Saud University adalah salah satu universitas terbesar di Arab Saudi. Software Al Qur’an Digital ini digarap dengan serius dan profesional serta didanai secara penuh oleh King Saud University. 

Diharapkan dengan kehadiran Software yang diberi nama Ayat ini dapat membantu umat muslim seluruh dunia untuk terus berinteraksi dengan Al Qur’an, dan menghafal Al Qur’an. Software Ayat dapat di download secara Gratis. Saat ini sudah diluncurkan Versi 1.2.2 dengan fasilitas antara lain :

1.    Terjemah Bahasa Indonesia dan 20 Bahasa Lainnya
2.    Tafsir Bahasa Indonesia dari Al Jalalayn
3.    Murottal MP3 Al Qur'an lebih dari 20 Qori / Imam
4.    Putar Murottal MP3 Per Ayat
5.    Dirancang untuk membantu menghafal Al Qur'an 
6.    Pengulangan Per Ayat / Halaman yang ingin dihafal
7.    Mode Latihan Hafalan dengan Highlight Ayat
8.    Mode Tilawah untuk membaca Al Qur'an
9.    Pencarian Ayat / Terjemah
10.  Tersedia untuk Windows / Mac / Linux/ Android

Salah satu kelebihan software Ayat ini yaitu adanya fasilitas untuk membantu menghafal Al Qur’an, pengguna bisa memilih menu Latihan Hafalan dan pengulangan ayat per ayat.

Untuk versi bahasa Indonesia lengkap dengan tafsir dan terjemahnya kini sudah bisa di download secara gratis di http://unduh.pusatalquran.com/ 

Atau dengan membeli DVD Murottal 4 Mode di http://dvd.pusatalquran.com/, in sya Allah akan mendapatkan bonus Al Qur'an Digital Ayat 1.2.2 lengkap dengan terjemah, tafsir, tahfidz dan audio(30 Juz).



Semoga dengan menginstall aplikasi Al Qur’an Digital di laptop / komputer kita menjadikan hari-hari kita bekerja didepan laptop / komputer menjadi penuh keberkahan.

Adab Membaca Al Quran

Written By pusat alquran on Rabu, 08 Oktober 2014 | 09.31

Salah satu kegiatan utama berkaitan dengan Al Quran tentu adalah membacanya. Semua ibadah berkaitan dengan Al Quran dijanjikan dengan pahala yang besar, termasuk dalam hal membacanya.
Namun, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, untuk lebih mencapai dan memperoleh manfaat dari membaca Al Qur’an tersebut, Islam telah mengatur adab-adab dan etika ketika seorang muslim membaca Al Qur’an.
Berikut beberapa adab membaca Al Quran :
Pertama : Dianjurkan dan disunahkan dalam membaca Al Quran dalam kondisi yang sempurna; bersih, menghadap qiblat, serta senantiasa menjagan waktu terbaik untuk membaca Al Quran seperti malam hari, ba’da maghrib, dan ba’da shubuh sebagaimana firman Allah
إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا
Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzammil:6) dan juga
إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
Sesungguhnya membaca Al-Qur’an di waktu Fajar disaksikan (oleh Malaikat),” (Al-Isra:78)
Dan membaca Al-Qur’an dalam kondisi berdiri, duduk, berbaring, berjalan bahkan ketika berkendaraan, sebagaimana firman-Nya:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring,” (Ali Imran: 191).
Kedua Maka disunnahkan memperbanyak bacaan baik ketika pagi, siang, sore dan malam sebagaimana hadits Rasulullah “Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (HR. Muslim).
Kedua : Membaca Al Quran adalah sebaik-baik dzikir. Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT telah berfirman, ”Barangsiapa yang disibukkan dengan Al Quran dan berdzikir kepada-Ku, hingga tidak sempat meminta kepada-Ku, maka aku akan memberikan apa yang terbaik yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan firman Allah atas perkataan makhluk-Nya adalah seperti keutamaan Allah atas semua makhluknya. (HR. Turmudzi)
Ketiga : Membaca Al Quran dengan tartil lebih diutamakan dari pada membaca dengan terburu-buru sehingga seluruh huruf-hurufnya jelas dan lebih menyentuh ke dalam hati.
 وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا
Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.” (Al Muzzammil:4)
Keempat : Memperindah bacaan sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Hiasilah Al Quran itu dengan suaramu.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lainnya disebutkan “Sesungguhnya suara yang baik itu menambah Al Quran menjadi baik.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasa’i)

Sumber : [www.islampos.com]

Presiden Turki Erdogan Baca Quran. Subhanallah. Lihat Videonya disini

Written By RULLY OKTOBERYANTO on Selasa, 07 Oktober 2014 | 05.37


Bagaimana Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan ketika membaca Al Qur'an ?

Subhanallah, silahkan lihat VIDEOnya disini. Seperti inilah seharusnya seorang presiden, bacaan Al Qur'annya baik dan benar. Silahkan di SHARE.




Takbiran Idul Adha

Written By pusat alquran on Sabtu, 04 Oktober 2014 | 09.30

Takbiran Idul Adha ada dua:
1. Takbiran yang tidak terikat waktu (Takbiran Mutlak)
Takbiran hari raya yang tidak terikat waktu adalah takbiran yang dilakukan kapan saja, dimana saja, selama masih dalam rentang waktu yang dibolehkan.
Takbir mutlak menjelang Idul Adha dimulai sejak tanggal 1 Dzulhijjah sampai waktu ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Selama tanggal 1 – 13 Dzulhijjah, kaum muslimin disyariatkan memperbanyak ucapan takbir di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Boleh sambil berjalan, di kendaraan, bekerja, berdiri, duduk, ataupun berbaring. Demikian pula, takbiran ini bisa dilakukan di rumah, jalan, kantor, sawah, pasar, lapangan, masjid, dst. Dalilnya adalah:
a. Allah berfirman, yang artinya: “…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)
Allah juga berfirman, yang artinya: “….Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang…” (Qs. Al Baqarah: 203)
Tafsirnya:
  • Yang dimaksud berdzikir pada dua ayat di atas adalah melakukan takbiran
  • Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan: “Yang dimaksud ‘hari yang telah ditentukan’ adalah tanggal 1 – 10 Dzulhijjah, sedangkan maksud ‘beberapa hari yang berbilang’ adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.” (Al Bukhari secara Mua’alaq, sebelum hadis no.969)
  • Dari Sa’id bin Jubair dari Ibn Abbas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” adalah tanggal 1 – 9 Dzulhijjah, sedangkan makna “beberapa hari yang berbilang” adalah hari tasyriq, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. (Disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathul Bari 2/458, kata Ibn Mardawaih: Sanadnya shahih)
b. Hadis dari Abdullah bin Umar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada amal yang dilakukan di hari yang lebih agung dan lebih dicintai Allah melebihi amal yang dilakukan di tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Oleh karena itu, perbanyaklah membaca tahlil, takbir, dan tahmid pada hari itu.” (HR. Ahmad & Sanadnya dishahihkan Syaikh Ahmad Syakir)
c. Imam Al Bukhari mengatakan: “Dulu Ibn Umar dan Abu Hurairah pergi ke pasar pada tanggal 1 – 10 Dzulhijjah. Mereka berdua mengucapkan takbiran kemudian masyarakat bertakbir disebabkan mendengar takbir mereka berdua.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.969)
d. Disebutkan Imam Bukhari: “Umar bin Khatab pernah bertakbir di kemahnya ketika di Mina dan didengar oleh orang yang berada di masjid. Akhirnya mereka semua bertakbir dan masyarakat yang di pasar-pun ikut bertakbir. Sehingga Mina guncang dengan takbiran.” (HR. Al Bukhari sebelum hadis no.970)
e. Disebutkan oleh Ibn Hajar bahwa Ad Daruqutni meriwayatkan: “Dulu Abu Ja’far Al Baqir (cucu Ali bin Abi Thalib) bertakbir setiap selesai shalat sunnah di Mina.” (Fathul Bari 3/389)
2. Takbiran yang terikat waktu
Takbiran yang terikat waktu adalah takbiran yang dilaksanakan setiap selesai melaksanakan shalat wajib. Takbiran ini dimulai sejak setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Berikut dalil-dalilnya:
a. Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dulu bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah dzuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Al Albani)
b. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau juga bertakbir setelah ashar. (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: “Shahih dari Ali radhiyallahu ‘anhu“)
c. Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)
d. Dari Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai ashar tanggal 13 Dzulhijjah. (HR. Al Hakim dan dishahihkan An Nawawi dalam Al Majmu’)
Lafadz Takbir
Tidak terdapat riwayat lafadz takbir tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja ada beberapa riwayat dari beberapa sahabat yang mencontohkan lafadz takbir. Diantara riwayat tersebut adalah:
Pertama, Takbir Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Riwayat dari beliau ada 2 lafadz takbir:
أ‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ
ب‌- اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ

Keterangan:
Lafadz: “Allahu Akbar” pada takbir Ibn Mas’ud boleh dibaca dua kali atau tiga kali. Semuanya diriwayatkan Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf.

Kedua, Takbir Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ
اللَّهُ أَكْبَرُ، عَلَى مَا هَدَانَا

Keterangan:
Takbir Ibn Abbas diriwayatkan oleh Al Baihaqi dan sanadnya dishahihkan Syaikh Al Albani.

Ketiga, Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu:
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا
Keterangan: Ibn Hajar mengatakan: Takbir Salman Al Farisi radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh Abdur Razaq dalam Al Mushanaf dengan sanad shahih dari Salman.
Catatan Penting
As Shan’ani mengatakan: “Penjelasan tentang lafadz takbir sangat banyak dari berberapa ulama. Ini menunjukkan bahwa perintah bentuk takbir cukup longgar. Disamping ayat yang memerintahkan takbir juga menuntut demikian.”
Maksud perkataan As Shan’ani adalah bahwa lafadz takbir itu longgar, tidak hanya satu atau dua lafadz. Orang boleh milih mana saja yang dia suka. Bahkan sebagian ulama mengucapkan lafadz takbir yang tidak ada keterangan dalam riwayat hadis. Allahu A’lam.

Sumber : [http://muslim.or.id/]
 
Copyright © 2011. Pusat Al Quran - All Rights Reserved
Template Published by Mas Template Redesigned by Pusatalquran.com,
Proudly powered by Blogger