Artikel Terbaru

Belajar Dari Rumah Laba-Laba

Written By pusat alquran on Rabu, 27 Agustus 2014 | 21.30

Rumah laba-laba, pernahkah Anda memperhatikan? Unik dan indah, bukan? Fungsinya juga ganda. Selain digunakan sebagai tempat tinggal juga sebagai perangkap bagi mangsa. Di antara beragam sarang yang dibangun oleh hewan, rumah laba-laba termasuk yang indah dan menarik.

Uniknya, di dalam al-Quran terdapat surat yang berjudul sarang laba-laba, yakni surat ke-29 (al-Ankâbut). Dalam surat tersebut Allah SWT. menjadikan sebutan rumah laba-laba sebagai sebuah perumpamaan bagi orang-orang yang mencari perlindungan dan tuhan selain Allah. Dijadikannya sarang laba-laba sebagai perumpamaan dikarenakan sifatnya yang rapuh meski tampak unik, indah dan menarik. Rumah laba-laba tidak akan sanggup menahan batu yang kecil sekalipun, atau angin kencang. Sarang itu pasti akan segera hancur.
Begitu pula siapa saja yang meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah, maka akan lemah. Karena tidak ada yang bisa memberikan perlindungan dan pertolongan dari segala marabahaya selain Allah SWT. Semua penolong, pelindungan dan tuhan selain Allah tidak akan sanggup menyelamatkan umat manusia.
“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”(QS. al-Ankabut [29]: 41).
Pada masa lampau manusia sering menyembah dan meminta bantuan kepada berhala, gunung, lautan, atau kepada manusia lain yang dianggap punya kekuatan. Namun demikian Allah menegaskan bahwa semua mahluk yang dimintai bantuan tersebut sebenarnya lemah. Perlindungan yang mereka berikan pun rapuh, tak akan sanggup menahan bencana jika menimpa manusia.
“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.”(QS. al-Hajj [22]: 73).
Berapa banyak juga manusia yang menyangka bahwa kekayaan yang ia miliki akan dapat menjaganya dari kemiskinan, atau penguasa yang ia pilih dan dukung akan dapat melindunginya, atau melalui ilmu pengetahuan dan teknologi yang ia kira akan dapat menjaganya. Namun demikian semua ternyata tidak dapat melindungi mereka dari marabahaya di dunia.
Kekayaan dapat ludes, penguasa bisa tumbang, dan ilmu pengetahuan serta teknologi tidak dapat menangkal beragam kelemahan dan bencana. Sebagai contoh, negara Jepang yang sering dikatakan sudah maju iptek-nya sekalipun tak berdaya dan menjadi lumpuh manakala bencana tsunami menimpa mereka. Inilah hakikat rumah laba-laba. Nampak indah tetapi sebenarnya amat rapuh.
Jelas sudah, tak ada yang layak dimintai pertolongan dan dapat memberikan pertolongan sejati melainkan hanya Allah SWT.




http://cintaquran.com

Akhlak Sesungguhnya Adalah Mengamalkan Al-Qur'an (Bagian 2)

Dan Al-Qur’an wajib kita imani, wajib kita terima semua kandungannya apa adanya. Karena Al-Qur’an adalah kalam mulia Allah Azza wajalla, yang tidak boleh dipilah pilih, tidak boleh diimani sebagian dan dikafiri sebagiannya.
Tidak boleh umat Islam memilih apa saja yang enak dari Al-Qur’an dan membenci apa-apa yang tidak sesuai dengan keinginannya. Jika prilaku atau akhlak seorang muslim seperti itu maka tidak ubahnya seperti akhlak kaum kafir Yahudi yang percaya kepada sebagian kitab Taurat dan kafir dengan sebagian yang lain. Allah memperingatkan hal ini dalam firman-Nya :

         أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَاجَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلَّاخِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَااللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّاتَعْمَلُون

“ Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”. (QS. Al-baqarah : 85 ).
Contohnya sebagian selebriti dengan kekayaan yang ia miliki begitu senang melaksanakan haji dan umroh ke baitullah, namun pada kesehariannya ia bolong-bolong menunaikan shalat karena jadwal shooting yang padat.
Banyak artis senang membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin namun ia juga senang memakai pakaian seronok yang tidak menutupi auratnya. Begitu pula banyak anak muda dan pelajar meniti pendidikan yang tinggi namun suka pula berzina dengan berpacaran. Maka perlu disadari bahwa hal demikian dan sejenisnya bukanlah akhlak yang baik sepanjang apapun gelar akademik disandangnya.
Apakah bisa disebut telah berakhlak baik, jika seorang murid berlaku sopan di depan gurunya , kemudian di belakang dia melunjak dengan tidak mengerjakan PR misalnya. Apakah seseorang pejabat berakhlak baik jika ia senyum di depan semua orang namun ternyata ia melakukan korupsi ? tentu tidak dan hati nurani pun tidak akan menerima hal itu.

Jadi, jangan salahkan siapa-siapa ketika umat Islam berada dalam keterpurukan. Jika kita merasa sebagai umat Nabi Muhammad Shallallahu’alihi wasallam tanyalah diri sendiri, apakah akhlak saya sudah sesuai dengan Al-Qur’an ?jika belum sesuai jangan salahkan para ulama di bidang syari’ah karena mereka sebatas memberikan nasihat dan pengajaran sesuai kapasitas ilmunya, adapaun praktiknya dalam bidang ekonomi, dalam bidang politik, dalam bidang social dan bidang-bidang lainnya, maka setiap umat Islam di bidangnya masing-masing bertanggung jawab atas identitasnya sebagai umat Muhammad untuk mempraktekan prilaku-prilaku yang sesuai dengan Al-Qur’an.

Maka, marilah jadikan Al-Qur’an sebagai sumber akhlak , yakni sumber prilaku dan life style, karena itulah bukti kita membuktikan diri sebagai umat Nabi yang kita cintai, jika kita tidak menjalankan Al-Qur'an dalam prilaku sehari-hari , lalu untuk siapa Al-Qur'an ini diturunkan ? apakah untuk Rasulullah yang telah diampuni dosanya ? tentu untuk kita semua, apapun profesinya.

Karena jika akhlak hanya disandarkan kepada para ulama dibidang syariah, apakah para cendekiawan dibidang lain bukan umat Nabi Muhammad? apakah surga hanya diperuntukkan bagi ulama di bidang syari’ah? tentu siapa pun yang merasa sebagai umat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam sangat menginginkan masuk ke dalam surga. Banyak sekali hadits Rasulullah yang berisi kabar gembira untuk umatnya , seperti diriwayatkan Al-Bukhari dalam Al-adab al-mufrad , diantaranya sabda beliau:

مَامِنْ شَىْءٍ في الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ

“ Tidak ada suatu amalan yang paling berat dalam mizan (tiimbangan pahal di surge) selain akhlakul karimah”.

وعنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عَمْرو قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا،وَكَانَ يَقُولُ: « خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
».
“ dan dari Abdullah bin Umar ia berkata : “ Rasulullah tidaklah jelek dan tidak pernah berbuat jelek. Dan Rasulullah pernah bersabda : “ Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya “.
وعنْ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عَمْرو قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا،وَكَانَ يَقُولُ: « خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا ».

“ apakah kalian mau aku kabarkan kepada kalian orang yang paling aku cintai, dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat? , para sahabt terdiam, lalu beliau mengulanginya sampai tiga kali, lalu para sahabat menjawab : “ iya wahai Rasulullah “. Beliau berkata : “ yaitu orang yang paling baik akhlaknya “

Kiranya marilah kita selalu kembali kepada Al-Qur’an dalam menjalani kehidupan di dunia ini, karena berpaling darinya sama saja mengubur diri hidup-hidup , hidup susah di dunia dan diakhirat ditimpa kebutaan. Allah berfirman :

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَىٰ

Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.
(QS. Thahaa : 124 -127 ).

Sumber : kebangkitanislam.com

Kisah Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah (Bagian 2)

Abu al-Hasan an-Nadawi berkata tentang sikap Raja’, “Raja’ telah melakukan sebuah jasa besar yang tidak akan dilupakan oleh Islam. Aku tidak mengetahui seorang laki-laki dari kalangan sahabat raja dan orang-orangnya, yang bisa memberi manfaat (dengan kedekatan dan kedudukannya) seperti manfaat yang diberikan oleh Raja’. (Rijal al-Fikr wa ad-Da’wah, 1: 40).
Umar naik mimbar, dan dalam tatap muka pertama dengan rakyat, dia mengatakan, “Jamaah sekalian, sesungguhnya aku telah diuji dengan perkara ini, tanpa dimintai pendapat, tidak pernah ditanya dan tidak pula ada musyawarah dengan kaum muslimin. Aku telah membatalkan baiat untukku, sekarang pilihlah seseorang untuk memimpin kalian.” Orang-orang serentak menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilihmu, kami menerimamu, silahkan pimpin kami dengan kebaikan dan keberkahan.”
Di saat itulah Umar merasa bahwa dirinya tidak mungkin menghindar dari tanggung jawa khalifah, maka Umar menambahkan kata-katanya untuk menjelaskan kebijakan-kebijakannya dalam menata umat Islam (Umar bin Abdul Aziz wa Siyasatuhu fi Radd al-Mazhalim, Hal: 102), “Amma ba’du, tidak ada lagi nabi setelah nabi kalian, tidak ada kitab selain kitab yang diturunkan kepadanya. Ketahuilah bahwa apa yang Allah halalkan adalah halal sampai hari kiamat. Aku bukanlah seorang hakim, aku hanyalah pelaksana, dan aku bukanlah pelaku bid’ah melainkan aku adalah pengikut sunnah. Tidak ada hak bagi siapapun untuk ditaati dalam kemaksiatan. Ketahuilah! Aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian, aku hanyalah seorang laki-laki bagian dari kalian, hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala memberiku beban yang lebih berat dibanding kalian.
Kaum muslimin, siapa yang mendekat kepadaku, hendaknya dia mendekat dengan lima perkara, jika tidak, maka janganlah mendekat: Pertama, mengadukan hajat orang yang tidak kuasa untuk mengadukannya, kedua, membantuku dalam kebaikan sebatas kemampuannya, ketiga, menunjukkan jalan kebaikan kepadaku sebagaimana aku dituntut untuk meniti jalan tersebut, keempat, tidak melakukan ghibah terhadap rakyat, dan kelima, tidak menyangkalku dalam urusan yang bukan urusannya.
Aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah memberikan akibat yang baik dalam setiap hal, dan tidak ada kebaikan apabila tidak ada takwa. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhirat, niscaya Allah akan mencukupkan dunianya. Perbaikilah (jaga) rahasia (yang ada pada diri kalian), semoga Allah memperbaiki apa yang terlihat dari (amal perbuatan) kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, bersiaplah dengan baik sebelum kematian itu menghampiri kalian, karena kematian adalah penghancur kenikmatan. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Tuhannya, tidak tentang Nabinya, tidak tentang Kitabnya, akan tetapi umat ini berselisih karena dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak akan memberikan yang batil kepada seseorang dan tidak akan menghalangi hak seseorang.”
Kemudian Umar meninggikan suaranya agar orang-orang mendengar, “Jamaah sekalian, barangsiapa yang menaati Allah, maka dia wajib ditaati dan barangsiapa mendurhakai Allah, maka tidak wajib taat kepadanya dalam permasalahan tersebut. Taatilah aku selama aku (memerintahkan untuk) menaati Allah, namun jika (perintahku) mendurhakai-Nya, maka kalian tidak boleh taat dalam hal itu…” kemudian Umar turun dari mimbar.
Begitulah prosesi pengangkatan Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah umat Islam, salah seorang khalifah Daulah Umawiyah. Ia diangkat pada hari Jumat, 11 Shafar 99 H (al-Bidayah wa an-Nihayah, 12: 667).
Sumber: Perjalanan Hidup Khalifah Yang Agung, Umar bin Abdul Aziz




http://kisahmuslim.com/kisah-pengangkatan-umar-bin-abdul-aziz-menjadi-khalifah/

Akhlak Sesungguhnya Adalah Mengamalkan Al-Qur'an (Bagian 1)

Sungguh sangat menakjubkan ketika Rasulullah bersabda :

إِنَّمَابُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ
“ Tidaklah saya diutus melainkan untuk menyempurnakan keshalihan akhlak “. (HR. Bukhari dan Ahmad ).

Kata " إنما " mengandung arti tidak lain dan tidak bukan/ hanyalah. jadi, semua bidang kajian Islam , baik bidang aqidah , ibadah maupun muamalah tidak terlepas dari materi akhlak.

Oleh karena itu materi akhlak selalu menjadi tema utama sebagian besar para ulama, pemikir dan tokoh dalam mengusung perjuangan dan dakwah Islam. Karena akhlak merupakan standar kualitas sebuah umat yang terhormat dan faktor yang sangat vital bagi eksistensi sebuah umat. Seorang penyair berkata :
إِنَّمَاالْأُمَمُ الْأَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ *** فَإِنْ هُمُوا ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوا

Sesungguhnya umat-umat itu ada karena adanya  akhlak mereka
Jika akhlak itu hilang maka umat pun punah

Penyair yang lain berkata :
 ولوأنني خُيِّرْتُ كلَّ فضيلةٍ *** مااخترت غيرَمكارمِ الأخلاقِ

Jika aku diberi pilihan pilihan semua keistimewaan kepadaku
Aku tidak akan memilih selain akhlak yang mulia

Karena tidaklah akhlak yang mulia ada pada diri seseorang melainkan akan merubah prilaku seseorang itu menjadi positif. Lihat saja mengapa agama Islam, dahulu menguasai dunia , memiliki pemimpin yang disegani kawan dan lawan. Tidak ada musuh Islam yang hendak merongrong kedaulatan umat Islam melainkan muncul pahlawan-pahlawan Islam yang menumpas musuh-mushnya.
 Lantas apa hubungannya akhlak dengan kejayaan Islam? Tidakkah kita menyadari bahwa Rasulullah adalah manusia terhebat di dunia karena telah memawa agama Islam menjadi satu-satunya agama yang dihormati di seluruh dunia sejak masanya sampai hari ini ? dan tentu kita tahu bahwa Rasulullah memiliki akhlak yang sangat mulia ? yakin semua umat Islam pasti mengakui itu.
Lantas bukankah Rasulullah juga berperang, mengeluarkan senjata , membunuh orang kafir di medan perang, memotong tangan pencuri , merajam orang yang berzina, yang mana semuanya merupakan contoh dan gambaran kesadisan? Namun kemudian, ketika Aisyah radhiyallahu’anha ditanya : “ bagaimanakah akhalk Rasulullah ? maka Aisyah menjawab : “ akhlaknya adalah Al-Qur’an “.

Jadi, akhak bukanlah sesuatu bidang Ilmu yang hanya membahas masalah saling menghormati, saling memberi, berbuat baik kepada orangtua dan sebagainya. Namun akhlak sesungguhnya adalah prilaku-prilaku yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah yang tercermin dalam berbagai bidang kehidupan.
Baik sosial , politik, ekonomi, peperangan atau jihad dan sebagainya. Sehingga munculah istilah ekonomi islam, politik islam, jihad, zakat, haji dan sebagainya dari syari'at Islam, semuanya adalah implementasi yang dijabarkan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu, tidak ada satu pun bidang kehidupan yang dijalani manusia di muka bumi ini melainkan Islam sudah memberikan rambu-rambu yang benar dan shalih bagi yang menjalankannya. Karena sumber semua Ilmu di dunia ini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Itulah makna meneladani akhlak Rasulullah yakni prilaku seorang muslim dimana pun dan kapan pun dan dengan status apa pun yang selalu memperhatikan tuntunan-tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jika semua umat Islam dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, suku dan bangsanya selalu mengembalikan dan mengaitkan semua urusannya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah sangatlah mungkin umat Islam akan meraih kejayaannya kembali.

Karena Islam ini bukan untuk perorangan atau kelompok, Islam adalah agama yang harus diperjuangkan oleh segenap lapisan masyarakat dari berbagai disiplin ilmu yang dimiliki masing-masing. Karena Islam bukan hanya ibadah ritual di masjid atau ceramah di mimbar-mimbar, namun Islam pernah berjaya dengan berbagai aspek pendukungnya diberbagai bidang kehidupan.

Pemikiran sederhana, seorang ulama tidak bisa dibaca bukunya jika tidak ada orang yang ahli dibidang percetakan. Seorang ulama tidak akan bisa di tonton ceramahnya jika tidak ada orang Islam yang ahli di bidang teknologi.
Demikian sebaliknya, pengusaha pesawat terbang memperoleh keuntungan dari banyaknya jama’ah haji dari seluruh dunia menuju Arab Saudi, dan semisalnya. Demikian juga para ahli ekonomi , tidak mungkin bisa menjalankan sistem perekonomian Islam jika tidak ada referensi teori yang ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dan masih banyak hal yang berkaitan satu sama lain yang tidak dapat dipisahkan, yang semuanya bermuara kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jadi, yang dimaksud dengan akhlakul karimah adalah prilaku manusia yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sebaliknya, tidak selalu prilaku yang nampak di depan mata itu baik kemudian berakibat baik. Lihat saja misalnya banyak calon pemimpin di negeri demokrasi ini yang bermulut manis, berpendidikan selangit , mengobarkan semangat anti korupsi, namun ketika ia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan berupa kursi panas jabatan sebagai anggota dewan perwakilan rakyat, malah dia menjilat ludah sendiri.

Bukankah dulu ia berwajah manis, bertutur kata bak seorang pahlawan menyeru rakyat memerangi kezhaliman koruptor ? tapi apa buktinya ? dia sendiri yang mengajak dan dia sendiri yang melanggar. Apakah kata-kata manis itu ? atau uang yang dibagi-bagikan ketika kampanye itu ? yang menjadi bukti bahwa ia berakhlak baik ? demi Allah akhlak bukanlah pada kata-kata manis, atau sikap lemah gemulai, atau apakah itu namanya , jika semua prilaku itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah , maka sama sekali semua itu bukan akhlak yang baik sekalipun dihiasi perhiasan mahal yang mempesona pandangan mata dan membutakan mata hati.

Karena satu-satunya akhlak yang baik adalah akhlak yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dimana didalamnya diterangkan mana yang halal dan mana yang haram, mana yang salah dan mana yang benar.
Kiranya perlu diketahui, bahwa akhlak itu tidak selamanya harus sesuai dengan kehendak manusia. Dan akhlak bukanlah prilaku yang dibuat-buat sesuai hawa nafsu. Akhlakul karimah terlalu mulia untuk dipermainkan dan dibuat-buat. Karena jika umat Islam mau mencontoh akhlak Rasulullah maka sumber akhlak beliau adalah Al-Qur’an.

Bolehkah Mengambil Upah Pengajaran Al-Quran?

Written By pusat alquran on Selasa, 26 Agustus 2014 | 23.33

Tidak diragukan lagi mempelajari Kitabullah, al-Quran adalah amal yang agung. Setelah mengimani al-Quran dengan pembenaran yang pasti (tashdiqan jaziman), maka sudah semestinya menjadikan dirinya sebagai pembelajar al-Quran. Nabi saw. memberikan pujian kepada setiap muslim yang mempelajari al-Quran maupun yang mengajarkannya. Sabda Beliau saw.:
خِيَارُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mengajarkan al-Quran dan yang mengajarkannya,”(HR. Bukhari dan Tirmidzi).
Al-Quran adalah sumber ilmu yang amat luas. Maka kegiatan belajar mengajar tentang Kitabullah ini meliputi banyak aspek seperti tafsir al-Quran, asbabun nuzul, termasuk cara membacanya. Para sahabat radliallahu anhum berlomba-lomba mempelajari al-Quran dari Rasulullah saw. sebagaimana mereka juga berlomba-lomba mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Di jaman sekarang pun kaum muslimin tetap bersemangat dalam mempelajari al-Quran. Pengajaran al-Quran ada yang dilakukan oleh perorangan atau lembaga-lembaga keislaman. Muncul kemudian pertanyaan; bolehkah seorang mualim/pengajar/trainier atau lembaga keislaman memungut bayaran dari pengajaran al-Quran? Bila memang diperkenankan apakah ada batas tertentu dalam biaya pengajaran al-Quran yang ditetapkan oleh syariat Islam?

Pembahasan persoalan di atas sebenarnya telah dibahas oleh para ulama salafus soleh (terdahulu). Telah terjadi perbedaan pendapat di antara mereka ihwal boleh tidaknya mengambil upah pengajaran al-Quran.
Jumhur ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafii memperbolehkan seseorang atau lembaga mengambil upah dari pengajaran al-Quran. Pendapat mereka disandarkan kepada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. bersabda:

إنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ
“Sesungguhnya suatu pekerjaan yang paling layak kalian ambil upah atasnya adalah (mengajarkan) kitabullah.”(HR. Bukhari).

Ibnu Qudamah dalam al-Mughniy menjelaskan bahwa hadits di atas berkaitan dengan kejadian seorang sahabat yang mendapat upah dari meruqyah seseorang dengan membacakan al-fatihah kepadanya hingga ia sembuh. Ketika terjadi perselisihan di antara para sahabat tentang hal ini, mereka lalu melaporkannya kepada Rasulullah saw. dan Beliau membenarkan perbuatan sahabat yang mengambil upah dari meruqyah tadi[i].
Sementara itu Imam ash-Shan’ani dalam kitab Subulus Salam bab ‘Ahdzu al-ujroh ‘ala  Qiro’atil Quran (Mengambil Upah Atas Bacaan al-Quran) juga menambahkan penjelasan bahwa kebolehan mengambil upah dari pengajaran al-Quran itu berlaku baik peserta didiknya orang dewasa atau anak-anak. Sebagaimana Rasulullah saw. juga mengizinkan seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan mahar pengajaran al-Quran[ii].
Pengarang kitab tafsir Jalalayn yakni Imam Jalaluddin as-Suyuthi juga berpendapat sama. Meski beliau menambahkan bila si pengajar menentukan upah tertentu maka tidak boleh, yang boleh adalah dengan kerelaan[iii].
Pendapat pertama ini menyatakan secara kebolehan terjadinya ijaroh (pengupahan) yang terkait dengan al-Quran. Baik dalam pengajarannya, membacanya, atau dalam ruqyah menggunakan al-Quran.

Meski demikian Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mengambil upah dari Kitabullah adalah haram. Beliau berdalil dengan hadits dari Ubadah bin ash-Shamit yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, bahwa suatu ketika Ubadah bin ash-Shamit ra. mengajarkan baca dan tulis al-Quran kepada ahlush-shuffah (orang-orang yang diberi tempat tinggal di mesjid Nabawi dan mendapat santunan dari baytul mal dan sedekah orang-orang Anshar). Kemudian salah seorang di antara mereka menghadiahkannya busur panah sebagai bayaran. Lalu Ubadah bin ash-Shamit berkata, “Saya tidak mempunyai uang, saya akan memanah dengan busur ini dalam jihad di jalan Allah.” Kemudian Ubadah menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan hal tersebut. Seketika Nabi saw. bersabda:

إنْ كُنْت تُحِبُّ أَنْ تُطَوَّقَ طَوْقًا مِنْ نَارٍ فَاقْبَلْهَا
“Jika engkau mau dikalungkan dengan kalung dari neraka, maka ambillah!”

Adanya peringatan dari Rasulullah saw. kepada Ubadah bin ash-Shamit tersebut menurut golongan Hanafiyah adalah qarinah (indikasi) keharaman mengambil upah dari pengajaran dan pembacaan al-Quran.
Akan tetapi Imam ash-Shan’ani memberikan penjelasan  bahwa hadits Ubadah bin ash-Shamit tidak bertentangan dengan hadits dari Ibnu Abbas. Dikarenakan hadits Ubadah diperselisihkan keshahihannya. Imam Ahmad menilai hadits Ubadah mungkar karena di dalamnya terdapat rawi bernama al-Aswad bin Tsa’labah yang tidak dikenal di kalangan ahli hadits.
Dalam kitab Subulus Salam juga diberikan tambahan bahwa bila seandainya hadits ini shahih maka dapat ditafsirkan bahwa kecaman Rasulullah saw. kepada Ubadah bin ash-Shamit ra. adalah karena Ubadah adalah orang yang telah mendermakan hidupnya untuk berbuat baik dan mengajarkan al-Quran tanpa niat mengambil upah. Sehingga perbuatan Ubadah itu diperingatkan oleh Rasulullah saw. akan merusak pahalanya.
Selain itu, Ubadah dianggap tidak pantas menerima upah dari orang-orang shuffah yang termasuk golongan fakir. Mereka hidup dari santunan negara dan kaum muslimin. Oleh karena itu mengambil upah dari mereka adalah makruh. Demikianlah penjelasan Imam ash-Shan’ani[iv].
Kesimpulannya, melakukan akad kerja dari pengajaran al-Quran, membacanya, atau meruqyah dengan menggunakan Kitabullah, hukumnya adalah boleh. Upah yang diterima seorang pengajar al-Quran adalah halal. Wallahu’alam bi ash-shawab. []


[i] Abdullah bin Ahmad bin Qudamah al-Maqdishi Abu Mahmud, al-Mughniy fi al-Fiqh Imam Ahmad bin Hanbal, juz 3 hal 185.
[ii] Ash-Shan’ani, Subulus Salam, juz 4 hal. 322.
[iii] Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqan fi Ulumil Quran, juz 1 hal. 123
[iv] Ash-Shan’ani, idem, juz 4 hal 323.
http://cintaquran.com

Kisah Pengangkatan Umar bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah (Bagian 1)

Di antara kebaikan-kebaikan Sulaimana bin Abdul Malik adalah bahwa dia berkenan menerima nasihat dari seorang ulama ahli fikih, Raja’ bin Haiwah al-Kindi, yang mengusulkan ketika Sulaiman dalam keadaan sakit dan akhirnya wafat, agar mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya. Akhirnya Sulaiman menetapkan surat wasiat yang tidak memberi celah bagi setan sedikit pun (Ashr ad-Daulatain al-Umawiyah wa al-Abbasiyah, Hal: 37). Ibnu Sirin mengatakan, “Semoga Allah merahmati Sulaiman, dia mengawali kekhalifahannya dengan menghidupkan shalat dan mengakhirinya dengan menunjuk Umar bin Abdul Aziz sebagai penerusnya.”
Khalifah Sulaiman wafat tahun 99H, Umar bin Abdul Aziz menshalatkan jenazahnya, tertulis dalam stempelnya, “Aku beriman kepada Allah dengan ikhlas.” (Siyar A’lam Nubala, 5: 11-12).
Ada beberapa riwayat tentang pengangkatan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah yang dikisahkan oleh Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat dari Suhail bin Abu Suhail, dia berkata, Aku mendengar Raja’ bin Haiwah berkata, “Di hari Jumat, Sulaiman bin Abdul Malik memakai baju berwarna hijau dari wol, dia bercermin dan berkata, ‘Aku adalah raja muda’. Lalu dia keluar untuk menunaikan shalat Jumat bersama rakyat, dia langsung sakit begitu pulang, manakala sakitnya semakin keras dia menulis wasiat untuk anaknya Ayyub. Ayyub adalah anak yang belum dewasa, aku berkata kepadanya, ‘Apa yang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin? Di antara kebaikan seseorang yang mengalir ke kuburnya adalah bahwa dia mengangkat orang shaleh sesudahnya’. Sulaiman berkata, ‘Surat wasiat ini, aku masih beristikharah kepada Allah, masih mempertimbangkan, dan belum memutuskan dengan pasti.’
Satu atau dua hari setelah itu Sulaiman membakar surat tersebut, kemudian dia mengundangku. Dia bertanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?’ Aku menjawab, ‘Dia berada di Konstantinopel, Anda sendiri tidak tahu dia masih hidup atau telah mati’. Sulaiman bertanya, ‘Siapa menurutmu wahai Raja’?’ Aku menjawab, ‘Terserah Anda wahai Amirul Mukminin’. Aku berkata demikian karena aku sendiri masih mempertimbangkan. Sulaiman berkata, ‘Bagaimana menurutmu Umar bin Abdul Aziz?’ Aku menjawab, ‘Demi Allah, yang aku tahu bahwa dia adalah laki-laki yang utama, muslim pilihan’. Sulaiman berkata, ‘Benar, dialah orangnya, tetapi jika aku mengangkatnya dan tidak mengangkat seorang pun dari anak-anak Abdul Malik, maka hal itu bisa memicu perpecahan, mereka tidak akan membiarkannya memimpin selama-lamanya, kecuali jika aku menetapkan seseorang dari mereka setelah Umar. Aku akan mengangkat Yazid bin Abdul Malik sesudah Umar. –Pada saat itu Yazid sedang tidak berada di tempat, dia menjadi Amirul Haj- Hal itu akan membuat anak-anak Abdul Malik tenang dan menerima’. Aku berkata, ‘Terserah Anda’.
Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat tangannya, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah surat wasiat Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, untuk Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku menyerahkan khilafah kepadanya sesudahku dan sesudahnya kepada Yazid bin Abdul Malik, dengarkanlah dan taatilah, bertakwalah kepada Allah, janganlah berselisih, karena musuh-musuh kalian akan berharap mengalahkan kalian’. Lalu Sulaiman menstempel surat tersebut.
Sulaiman kemudian meminta Ka’ab bin Hamid, kepala pasukan pengawal khalifah, agar mengumpulkan keluarganya. Ka’ab melaksanakan dan mengumpulkan mereka. Setelah mereka berkumpul, Sulaiman berkata kepada Raja’, bawalah surat wasiatku kepada mereka, katakan kepada mereka bahwa itulah surat wasiatku, minta mereka untuk membaiat orang yang aku tunjuk’. Raja’ melaksanakannya, ketika Raja menyampaikan hal itu, mereka berkata, ‘Kami mendengarkan dan menaati siapa yang tercantum di dalamnya’. Mereka berkata, ‘Bolehkah kami menemui Amirul Mukminin untuk mengucapkan salam?’ Raja’ menjawab, ‘Silahkan’. Mereka pun masuk, Sulaiman berkata kepada mereka, ‘Itu adalah wasiatku, -Sulaiman menunjuk kepada surat yang ada di tangan Raja’ dan mereka melihat surat tersebut- Itu adalah pesan terakhirku, dengarkanlah, taatilah dan baiatlah orang yang aku sebutkan namanya dalam surat wasiat tersebut’. Raja’ berkata, ‘Maka mereka membaiatnya satu per satu’. Kemudian Raja’ membawa surat yang berstempel itu keluar’.”
Raja’ berkata, “Manakala mereka telah meninggalkan tempat itu, Umar datang kepadaku, dia berkata, ‘Wahai Abu al-Miqdam, sesungguhnya Sulaiman sangat menghormati dan menyayangiku, dia bersikap lembut dan baik, aku khawatir dia menyerahkan sebagian perkara ini kepadaku, maka aku meminta kepadamu dengan nama Allah kemudian dengan kehormatan dan kasih sayangku, agar engkau memberitahuku jika perkaranya demikian, sehingga aku bisa mengundurkan diri saat ini sebelum datangnya suatu keadaan dimana aku tidak mampu merubahnya lagi’. Raja’ menjawab, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan mengabarkan satu huruf pun kepadamu’. Maka Umar pergi dengan kesal.”
Raja’ berkata, “Maka Hisyam bin Abdul Malik menemuiku dan berkata, ‘Sesungguhnya antara diriku dengan dirimu terdapat hubungan baik dan kasih sayang lama, aku pun tahu berterima kasih, katakan kepadaku apakah aku orang yang disebut dalam surat tersebut? Jika aku adalah orangnya, maka aku tahu. Jika orang lain, maka aku akan berbicara, orang sepertiku tidak patut dipandang sebelah mata, perkara seperti ini tidak pantas dijauhkan dari orang sepertiku, katakan kepadaku. Aku berjanji dengan nama Allah kepadamu tidak akan menyebutkan namamu selama-lamanya’.”
Raja’ berkata, “Aku menolak permintaan Hisyam, aku berkata, ‘Tidak demi Allah, aku tidak akan membuka satu huruf pun kepadamu dari apa yang telah dirahasiakan Sulaiman kepadaku’. Hisyam pun pergi sambil menepukkan satu tangannya ke tangan yang lain, dia berkata, ‘Kepada siapa perkara ini diserahkan jika tidak kepadaku, apakah kami ini dianggap bukan anak Abdul Malik? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah putra Bani Abdul Malik yang sebenarnya’.”
Raja’ berkata, “Aku menemui Sulaiman bin Abdul Malik, ternyata dia sudah wafat, namun aku masih mendapati saat-saat sakratul mautnya, setiap kali dia menghadapinya, maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, Sulaiman mengucapkan dengan tersendat-sendat, ‘Wahai Raja’, saatnya belum tiba sekarang’. Sampai aku mengulangnya dua kali, pada kali ketiga Sulaiman berkata, ‘Sekarang wahai Raja’, jika kamu ingin sesuatu, maka aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’.”
Raja’ berkata, “Maka aku menghadapkannya ke arah kiblat, dan Sulaiman wafat. Aku memejamkan kedua matanya, aku menyelimutinya dengan sebuah kain hijau, aku menutup pintu, istrinya mengutus seorang utusan untuk meminta izin melihat keadaannya, aku berkata kepadanya, ‘Dia telah tidur dan berselimut’. Utusan itu telah melihat Sulaiman yang telah berselimut kain, dia pulang menyampaikannya kepada istrinya, istrinya tenang karena dia mengira bahwa Sulaiman tidur.”
Raja’ berkata, “Aku meminta seseorang yang kupercayai untuk berdiri di pintu, aku berpesan kepadanya untuk tidak beranjak sampai aku sendiri yang datang kepadanya dan tidak memperkenankan siapa pun untuk masuk menemui khalifah. Lalu aku memanggil Ka’ab bin Hamid al-Ansi, aku memintanya untuk mengumpulkan keluarga Amirul Mukminin, mereka pun berkumpul di masjid Dabiq, aku berkata kepada mereka, ‘Berbaiatlah kalian’. Mereka menjawab, ‘Kami telah berbaiat, sekarang berbaiat lagi?’ Aku berkata, ‘Ini adalah pesan Amirul Mukminin, berbaiatlah untuk mematuhi perintahnya, mengakui siapa yang disebutkan namanya dalam surat wasiat yang distempel ini’. Mereka pun satu per satu membaiat untuk kedua kalinya.”
Raja’ berkata, “Ketika mereka bersedia membaiat untuk kedua kalinya, maka aku yakin telah menata urusan ini sebaik mungkin, aku mengucapkan, ‘Jenguklah Khalifah Sulaiman, karena beliau telah wafat’. Mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Kemudian aku membacakan isi surat wasiat Sulaiman, ketika aku menyebut nama Umar bin Abdul Aziz, Hisyam berkata, ‘Kami tidak akan membaiatnya selama-lamanya’. Raja’ mengatakan, ‘Demi Allah, aku akan memenggal lehermu, berdiri dan berbaiatlah’. Lalu Hisyam berdiri dengan “menyeret” kedua kakinya.
Raja’ melanjutkan, “Aku memegang pundak Umar bin Abdul Aziz, aku mendudukkannya di atas mimbar, sementara Umar bin Abdul Aziz mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi
rajiun’. Ia menyesali apa yang didapatkannya. Sementara Hisyam juga mengucapkan ucapan yang sama karena bukan dia yang ditunjuk oleh Sulaiman bin Abdul Malik sebagai penggantinya. Hisyam bertemu Umar bin Abdul Aziz, dia berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena kekhalifahan telah berpindah tangan dari anak-anak Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Maka Umar menjawab, ‘Ya, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun’. Karena perkara itu sampai ke tangannya padahal dia tidak menyukainya.” (Tarikh ath-Thabari, 7: 445). bersambung

Kisah Gadis Muslimah London, Selamat dari Pembunuhan Berkat al-Qur'an

Written By pusat alquran on Minggu, 24 Agustus 2014 | 23.09


Kisah nyata ini dialami oleh seorang gadis Muslimah asal Arab yang tinggal di London. Suatu hari ia memenuhi undangan temannya hingga tengah malam. Meski rumahnya jauh, ia harus pulang malam itu juga.

“Naik bus saja ya. Meski agak lama tapi relatif lebih aman daripada kereta (subway). Di sini sering terjadi tindak kejahata dan pembunuhan di malam hari, apalagi di stasiun bawah tanah yang biasanya sepi,” temannya menasehati ketika ia berpamitan pulang.

Gadis muslimah ini hanya berpikir bagaimana caranya agar ia cepat sampai di rumah. Karenanya ia memutuskan naik kereta api. Dan ternyata benar. Stasiun sepi. Di ruang tunggu, ia melihat seorang laki-laki yang mencurigakan. Hanya mereka berdua yang ada di sana. Sempat takut, tapi ia kemudian cepat menenangkan diri. Ia berlindung kepada Allah dan membaca surat-surat Al Qur’an yang dihafalnya. Ia pun berhasil melewati laki-laki tersebut dengan aman, lalu naik kereta dan tibalah ia di rumahnya.

Keesokan harinya, gadis Muslimah ini dikejutkan dengan berita pembunuhan yang ia baca di surat kabar. Pembunuhan itu terjadi di stasiun yang sama, persis lima menit setelah kepergiannya meninggalkan stasiun itu. Di berita itu juga disebutkan, polisi berhasil menangkap pembunuhnya.
Penasaran dengan peristiwa itu, ia datang ke kantor polisi untuk melihat siapa pembunuhnya. Ternyata pelaku adalah laki-laki yang telah dilihatnya semalam. Setelah meyakinkan polisi, ia diberikan kesempatan bertanya kepada laki-laki tersebut.

“Apakah engkau mengingatku?” tanya gadis Muslimah itu.
“Apakah aku mengenalmu?” jawab laki-laki itu sambil berusaha mengingat gadis di depannya.
“Aku bertemu denganmu di stasiun sebelum kejadian tersebut”
“Ya, aku ingat sekarang”
“Mengapa engkau membiarkan aku, tidak membunuhku saat itu?”
“Jangan bercanda. Bagaimana aku akan membunuhmu sementara ada dua pengawal berbadan besar yang mengikutimu?”

Allahu akbar! Rupanya Allah menyelamatkan gadis muslimah itu dengan mengirimkan dua penjaga untuknya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi semalam.

Saudariku,, kapan pun engkau merasa terancam bahaya, berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pelindung dan tidak ada pelindung kecuali Dia. Kapan pun engkau merasa takut, bergantunglah hanya kepadaNya. Ingatlah Dia, niscaya Dia mengingatmu.

Berdoalah kepadaNya dengan doa yang sungguh-sungguh, niscaya Dia mengabulkan doamu.
Seperti kisah nyata yang ditulis Syaikh Ahmad Abduh Iwadh dalam buku La Tai’asu min Ruuhillah (Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah) di atas. Ketika seorang hamba benar-benar berdoa, berlindung dan bergantung kepadaNya, maka Dia akan melindunginya dengan berbagai cara yang kadang-kadang hambaNya sendiri tidak tahu bahwa Allah melindunginya dengan caraNya.

Dan janganlah kosongkan dirimu dari Al Qur’an. Hafalkanlah firman-firmanNya, sesuai kemampuan dan kesanggupanmu. Sesungguhnya dengan menghafal Al Qur’an, engkau bisa membacanya kapan pun. Dan dengan membacanya, engkau mengingatNya. Ketika engkau menghayati maknanya, sesungguhnya engkau berusaha lebih dekat denganNya. Dan Dialah yang menjagamu dan menjaga seluruh penghafal Qur’an.

Musa, Usia 5,5 Tahun Hafal 29 Juz

Written By pusat alquran on Minggu, 10 Agustus 2014 | 19.35

Aksi Musa sungguh memukau. Sehingga di antara juri dan penonton pun meneteskan air mata, menangis haru. Bahkan, salah satu juri melangkah menghampirinya. Juri itu mencium tangan dan kening Musa.
Dream - Usianya belum genap enam tahun. Tingkahnya pun masih polos, sama seperti bocah-bocah lainnya. Namun, anak ini sungguh istimewa. Dalam usia sangat belia itu, dia sudah menghafal 29 juz Alquran.
Dialah Musa. Bocah asal Bangka itu memang snagat fasih melafalkan ayat-ayat suci Alquran. Kini, dia tengah mengikuti ajang lomba menghafal Alquran di salah satu stasiun televisi di Jakarta.
Beberapa waktu lalu, penampilan Musa memukau juri dan penonton. Semula, para penonton tak percaya bocah mungil itu bisa menghafal 29 juz Alquran. Maka, diteslah dia oleh dewan juri. Dia disuruh meneruskan bacaan ayat yang dibacakan salah satu juri.
Hasilnya, luar biasa. Dengan tenang, Musa bisa meneruskan bacaan itu dengan sempurna. Tak sekadar hafal, tajwid pun pas. Ditambah lagi suaranya yang merdu.
"Subhanallah… Ayah bunda semua, inilah sebuah nilai. Bahwa anak kecil sekalipun dia sangat terbatas kemampuannya, ketika dia menjadi mulia karena Alquran maka kita semua tunduk, karena Allah telah memuliakannya dengan Alquran," kata salah satu juri di ajang itu, Amir Faisol.
Aksi Musa sungguh memukau. Sehingga di antara juri dan penonton pun meneteskan air mata, menangis haru. Bahkan, salah satu juri melangkah menghampirinya. Juri itu mencium tangan dan kening Musa.
Menurut sang ayah, Hanafi, sejak masih dalam kandungan Musa sudah dikenalkan dengan bacaan Alquran. Hanafi dan istrinyalah yang membacakan Alquran untuk buah hati mereka semasa masih di dalam kandungan.
Membimbing Musa untuk menghafal Alquran bukan tanpa perjuangan. Hanafi yang hanya bekerja sebagai petani di Kecamatan Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, ini bahkan sempat dicap sebagai ekstrimis karena tidak memberikan ruang untuk Musa bermain.
Sejak usia dua tahun, Musa telah diperkenalkan huruf-huruf hijaiyah. Metodenya sederhana. Sang ayah hanya menempel satu atau dua huruf hijaiyah di dinding untuk selalu diulang-ulang oleh Musa. Setelah Musa hafal, huruf itu diganti dengan yang lainnya. Metode ini dilakukan hingga Musa hafal seluruh huruf hijaiyah.
Sekitar usia 3,5 tahun, Musa pernah merasa bosan. Musa yang kala itu masih balita selalu menangis saat diajak mengaji. Namun sang ayah tetap saja memberi Musa pelajaran menghafal Alquran dengan dibantu oleh penghafal Alquran, Sabilar Rosyad.
Kini, pelajaran itu membuahkan hasil. Untuk menggenapi hafalan 30 Juz Alquran, Musa tinggal menghafal surat An-Nahl dan Bani Israil. Selain hafal kitab suci, Musa kecil juga selalu melakukan ibadah di malam hari, semisal salat sunah.
Setelah beribadah malam it, Musa tidak tidur lagi, tetapi menunggu waktu subuh. Setelah itu dia bermain dengan anak-anak sebayanya. Namun yang membedakan dengan anak lainnya, di tengah kegembiraan bermain itu, Musa masih sempat mengulang hafalan Alquran. Juara 1 MTQ tingkat Kabupaten Bangka Barat untuk cabang Tahfidz Quran 20 Juz menjadi salah satu prestasinya. (Ism, Dari berbagai sumber

Panggilan Amal Dari Kepulauan Untuk Para Dermawan

Written By RULLY OKTOBERYANTO on Kamis, 07 Agustus 2014 | 03.17


Apabila kita berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau, salah satu tujuan wisata yang banyak kita temukan adalah situs-situs sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga. Dari peninggalan sejarah yang ada dapat kita ketahui kejayaan islam dimasa dahulu. Ada Mesjid Raya Sultan Riau di Pulau Penyengat, Gurindam 12 gubahan Raja Ali Haji, Mushaf Al Qur'an tulisan tangan dan kitab-kitab para ulama. Semangat keilmuan untuk belajar islam ketika itu sangat luar biasa, bahkan kerajaan memfasilitasi para pemuda melayu untuk belajar islam sampai ke Mesir.

Berlandaskan semangat keilmuan Islam para pendahulu, kini para putra daerah Kepulauan Riau berkumpul bersama untuk membangkitkan kembali kecintaan terhadap Al Qur'an dan keilmuan. Sebagaimana yang disampaikan Rully Oktoberyanto, ketua Yayasan Ashabul Qur'an (YAQ), "Kita ingin kelak provinsi Kepulauan Riau terkenal sebagai Pusatnya Al Qur'an di Indonesia".

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut YAQ melakukan pembinan melalui Rumah-rumah tahfidz, Ahad Tahfidz yang dilakukan di mesjid-mesjid, Ekskul KRISTAL (Kelompok Remaja Islam Cinta Al Qur'an) yang diadakan di sekolah-sekolah, dan pengiriman putra daerah ke pesantren tahfidz di Jawa melalui Program Beasiswa. Saat ini YAQ juga sedang membangun Resort Tahfidz, pesantren tahfidz dengan konsep resort yang indah dan nyaman untuk belajar dan menghafal Al Qur'an.

"Kami juga menawarkan kepada para dermawan yang ingin ikut serta dalam program amal jariyah ini bisa dengan memesan produk amal DVD Murottal 4 mode". Rully menjelaskan. DVD Murottal 4 mode adalah produk yang dibuat oleh YAQ yang 100% hasil penjualannya untuk mendukung program pembinaan penghafal Al Qur'an di Kepulauan Riau. DVD ini adalah yng pertama di dunia karena di dalamnya ada MP3 persurat, perjuz, perhalaman, dan perayat. Sehingga bisa membantu untuk yang ingin belajar dan menghafal Al Qur'an.

Pemesanan DVD amal ini juga bisa dilakukan secara online via http://dvd.pusatalquran.com. Atau via sms ketik DVD # nama # alamat kirim ke 081271222111. 

Untuk donasi minimal Rp 100.000,- dapat ditransfer setelah DVD sampai ke alamat via BANK MUAMALAT a.n Pusat Al Qur'an No. Rek 4510017286.

InsyaAlloh dukungan kita sangat berperan mewujudkan pusatnya Al Qur'an Indonesia.

Info Lowongan Kerja Spektakuler PAI - Syawal 1435

Written By RULLY OKTOBERYANTO on Jumat, 01 Agustus 2014 | 19.21



Info Lowongan Kerja

Menyambut syawal dengan semangat dan tenaga baru, tim Tahfidz Pusat Al Qur'an Indonesia kembali mencari talenta terbaik dari seluruh Indonesia. Kesempatan bekerja di lingkungan qur'ani serta aktif mengkaji dan menghafal Al Qur'an

Dengan kriteria :
1. Guru Tahfidz Akhwat
- Hafalan khatam 30 juz.
- Komunikatif dalam mengajar
- Aktif tarbiyah
- Irama tilawah bagus

2. Designer Grafis
- Menguasai Photoshop, corel, pagemaker
- Bisa melayout majalah
- Kreatif dan komunikatif
- Aktif Tarbiyah

Lamaran dan CV dikirim via email ke :
pusatalquranindonesia@gmail.com Info

Kontak :
Komplek Tahfidz Ashabul Qur'an
Jl. Adi sucipto Km 11 valian permai D1
Tanjungpinang - Kepulauan Riau
Web : http://www.pusatalquran.com
Pin:264AA6F5
Kontak : 081364515717

Fasilitas :
- Disediakan Rumah
- Tiket Pesawat ke Tgpinang
- Gaji diatas UMK

Bantu share ya, mungkin ada rekan2 kita yang membutuhkan informasi ini
 
Copyright © 2011. Pusat Al Quran - All Rights Reserved
Template Published by Mas Template Redesigned by Pusatalquran.com,
Proudly powered by Blogger