Artikel Terbaru

Keajaiban pada permulaan surat-surat Al-Qur'an (bagian 2)

Written By pusat alquran on Rabu, 17 Desember 2014 | 10.33


Allah Ta’ala mengawali surat-surat dalam Al-Qur’an dengan beragam cara. Salah satunya adalah memulai awal surat dengan an-nida’ atau kalimat seruan dan panggilan. Ada sepuluh surat dalam Al-Qur’an yang diawali dengan kalimat seruan atau kalimat panggilan. Lima awal surat berupa panggilan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, tiga awal surat berupa panggilan kepada orang-orang yang beriman dan dua awal surat berupa panggilan kepada umat manusia.
Panggilan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam
Surat 1:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Ahzab [33]: 1)
Surat 2:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ وَأَحْصُوا الْعِدَّةَ وَاتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ
Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya yang wajar [yaitu hendaknya ditalak diwaktu suci sebelum dicampuri] dan hitunglah oleh kalian waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Rabb kalian!(QS. Ath-Thalaq [65]: 1)
Surat 3:
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ تَبْتَغِي مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. At-Tahrim [66]: 1)
Surat 4:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ
Wahai orang yang berselimut [yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam]. (QS. Al-Muzzammil [73]: 1)
Surat 5:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
Wahai orang yang berselimut [yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam]. (QS. Al-Muddattsir [74]: 1)

Panggilan kepada orang-orang yang beriman
Surat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah perjanjian-perjanjian diantara kalian…” (QS. Al-Maidah [5]: 1)
Surat 7:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui.(QS. Al-Hujurat [49]: 1)
Maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya.
Surat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia…” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 1)

Panggilan kepada umat manusia
Surat 9:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dari satu orang saja [yaitu Adam], dan dari padanya Allah menciptakan isterinya [yaitu Hawa]; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kalian saling meminta satu sama lain. Dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kalian.(QS. An-Nisa’ [4]: 1)
Surat 10:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb kalian! Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).(QS. Al-Hajj [22]: 1)

Wallahu a’lam bish-shawab.
(muhib al majdi )
Sumber : http://www.arrahmah.com

Kegiatan Belajar Mengajar di TPA Tahfidz

Bekasi (17/12/2014) PAI. Pusat Al Quran Indonesia berkomitmen untuk senantiasa mengembangkan pendidikan Al Quran di Indonesia. Hal ini direalisasikan dengan menaungi beberapa lembaga pendidikan Al Quran diantaranya TPA Tahfidz Al Ikhlas yang bertempat di Perumahan P & K, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi. TPA Tahfidz Al Ikhlas telah bergabung dengan Pusat Al Quran Indonesia sejak bulan November 2014. Dibantu oleh 10 Relawan yang Hafidz Qur'an 30 Juz, Kegiatan belajar mengajar semakin mendapat banyak sambutan dan minat dari Masyarakat. Berikut Photo kegiatan yang berhasil di dokumentasikan oleh Pusat Al Quran.

 Senam semangat Pra Belajar yang menyenangkan


 Menghafal lafadz Adzan Bersama Ust A. Zubair Alhafidz

 Suasana belajar sangat menyenangkan dipenuhi dengan senyuman

 Kegiatan latihan menulis Huruf Hijaiyah

 Mengoreksi hasil latihan santri TPA Tahfidz

 Masih ada yang santri  belum selesai menulis, Perjuangan masih berlanjut.

 Sesi Muroja'ah hafalan bersama-sama

 Test Hafalan yang kemarin, ayo siapa yang masih ingat ?

Kegiatan tes dipandu oleh 3 orang ustadz sekaligus. Subhanallah...

Keindahan pada permulaan surat-surat Al-Qur'an (bagian 1)

Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Kemu’jizatan Al-Qur’an tidak berakhir dengan wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam. Kemu’jizatan Al-Qur’an tetap bisa dirasakan, dipelajari, digali dan diambil faedahnya oleh umat Islam sampai hari kiamat kelak.
Al-Qur’an memiliki berbagai aspek kemukjizatan. Susunan huruf, kata, kalimat dan ayat-ayat Al-Qur’an mengandung kemukjizatan bahasa dan sastra yang diakui oleh para sastrawan. Kesempurnaan dan keserasian aturan, hukum, perintah, larangan, undang-undang, adab dan nilai-nilai yang dikandung Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat tersendiri. Demikian pula pemberdayaan akal, panca indera dan ilmu pengetahuan yang dikandung oleh Al-Qur’an merupakan sebuah mukjizat yang akan membawa umat manusia kepada kemajuan ilmu pengetahuan. Banyak aspek kemukjizatan lainnya yang digali oleh para ulama Islam dari Al-Qur’an.
Salah satu kemukjizatan yang disimpulkan ulama dari Al-Qur’an adalah keindahan dan keserasian susunan ayat-ayat dan surat-suratnya. Di antara contohnya adalah apa yang diuraikan oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi (wafat tahun 911 H) dalam kitabnya Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an, tentang betapa Allah Ta’ala memulai permulaan surat-surat dalam Al-Qur’an dengan beraneka macam cara yang sangat indah dan menakjubkan.
Salah satu cara Allah Ta’ala memulai permulaan surat-surat dalam Al-Qur’an adalah dengan kalimat pujian bagi dzat Allah Ta’ala. Pujian kepada Allah Ta’ala tersebut diungkapkan dengan dua cara:

Pertama, mensucikan Allah Ta’ala dengan menetapkan sifat-sifat pujian bagi Allah

Cara ini bisa ditemukan dalam dua lafal, yaitu lafal tahmid dan lafal tabaaraka. Di dalam Al-Qur’an terdapat lima surat yang diawali dengan lafal tahmid bagi Allah Ta’ala dan dua surat yang diawali dengan lafal tabaaraka bagi Allah. Kelima surat yang diawali dengan tahmid tersebut adalah:
Surat 1:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (QS. Al-Fatihah [1]: 1)
Catatan:
Para ulama Islam sepakat menyatakan bahwa surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat. Namun mereka berbeda pendapat mengenai ayat pertama dan ayat terakhir dari surat Al-Fatihah.
Imam Abu Hanifah dan Malik berpendapat basmalah [bismillahir rahmaanir rahiim] tidak termasuk bagian dari surat Al-Fatihah. Menurut mereka ayat pertama dari surat Al-Fatihah adalah alhamdulillah rabbil ‘alamin. Adapun ayat ketujuh dari surat Al-Fatihah adalah ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin. Pendapat ini didasarkan kepada hadits-hadits shahih, antara lain adalah:
عَنْ أَبِي سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَكُنْتُ أُصَلِّي فِي الْمَسْجِدِ فَدَعَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أُجِبْهُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أُصَلِّي فَقَالَ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ } ثُمَّ قَالَ لِي لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ الْمَسْجِدِ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِي فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لَأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِيَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ
Dari Abu Sa’id bin Mu’alla radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya sedang melaksanakan shalat di dalam masjid, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memanggilku, maka aku tidak menjawab panggilan beliau. Setelah shalat, saya mendatangi beliau dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, saya tadi sedang shalat sehingga saya tidak memenuhi panggilan Anda.’ Maka beliau bertanya: “Bukankah Allah telah berfirman ‘Penuhilah panggilan Allah dan rasul-Nya jika Dia memanggil kalian kepada perkara yang memberikan kehidupan kepada kalian?’ [QS. Al-Anfal [8]: 24]
Beliau kemudian bersabda kepadaku: “Sungguh saya akan mengajarkan kepadamu satu surat yang merupakan surat paling agung di dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari dalam masjid ini.” Beliau lantas mengandeng tanganku. Ketika beliau hendak keluar dari masjid, saya pun bertanya kepada beliau: ‘Wahai Rasululullah, bukankah Anda tadi bersabda sungguh saya akan mengajarkan kepadamu satu surat yang merupakan surat paling agung di dalam Al-Qur’an?’
Maka beliau menjawab: “Itu adalah alhamdu lillahi rabbil ‘alamiin [surat Al-Fatihah], yaitu tujuh ayat yang diulang-ulang [as-sab’u al-matsani] dan [surat] Al-Qur’an yang agung yang dikaruniakan kepadaku.” (HR. Bukhari no. 4474, Abu Daud no. 1457, Nasai no. 913, Ibnu Majah no. 3785 dan Ahmad no. 17905)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ ثَلَاثًا غَيْرُ تَمَامٍ فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِي عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي وَإِذَا قَالَ{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي فَإِذَا قَالَ{ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ }قَالَ هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ{ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ }قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat tanpa membaca Ummul Qur’an [surat Al-Fatihah] niscaya shalatnya cedera [tidak sah] yaitu tidak sempurna.” Beliau mengulang sabdanya tersebut tiga kali.
Ada orang bertanya kepada Abu Hurairah: “Bagaimana jika kami shalat sebagai ma’mum di belakang imam?”
Abu Hurairah berkata: “Bacalah Ummul Qur’an di dalam dirimu sendiri, karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi shalat [yaitu surat Al-Fatihah] menjadi dua, bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.
Jika seorang hamba membaca al-hamdu lillahi rabbil ‘alamiin, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku memuji-Ku.”
Jika seorang hamba membaca ar-rahmaanir rahiim, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku menyanjung-Ku.”
Jika seorang hamba membaca maaliki yaumid diin, maka Allah menjawab: “Hamba-Ku mengagungkan-Ku.” [Dalam riwayat yang lain: Hamba-Ku menyerahkan urusannya kepada-Ku]
Jika seorang hamba membaca iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, maka Allah menjawab: “Ini untuk-Ku dan untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
Jika seorang hamba membaca ihdina ash-shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim, ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin, maka Allah menjawab: “Ini untuk untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 395, Abu Daud no. 821, Tirmidzi no. 2953, Nasai no. 909, Ibnu Majah no. 3784 dan Ahmad no. 7289)
Adapun imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam berpendapat bahwa ayat pertama dari surat Al-Fatihah adalah bismillahir rahmaanir rahiim, sedangkan ayat terakhir dari surat Al-Fatihah adalah shirathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laa adh-dhaaliin. Pendapat ini didasarkan kepada beberapa hadits shahih, antara lain:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَاسُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً{ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }{ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ }{ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }{ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ }
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa ia ditanya tentang cara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca, maka ia menjawab: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam menghentikan bacaannya pada tiap-tiap ayat. Beliau membaca bismillahir rahmaanir rahiim [lalu berhenti, kemudian membaca], al-hamdu lillahi rabbil ‘alamiin, [lalu berhenti, kemudian membaca] ar-rahmaanir rahiim, [lalu berhenti, kemudian membaca] maaliki yaumid diin.” (HR. Abu Daud no. 401, Tirmidzi no. 2927, dan Ahmad no. 26692)
عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَنَسٌ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَتْ مَدًّا ثُمَّ قَرَأَ{ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ }يَمُدُّ بِبِسْمِ اللَّهِ وَيَمُدُّ بِالرَّحْمَنِ وَيَمُدُّ بِالرَّحِيمِ
Dari Qatadah berkata: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang bagaimana cara bacaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, maka Anas menjawab: “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa salam membaca dengan memanjangkan bacaaan [pada bagian-bagian mad], lalu Anas membaca bismillahir rahmaanir rahiim, denganmemanjangkan bacaaan bismillah, memanjangkan bacaan ar-rahmaan, dan memanjangkan bacaan ar-rahiim.” (HR. Bukhari no. 5046 dan Al-Hakim no. 852)
Pembahasan selengkapnya tentang ayat pertama surat Al-Fatihah bisa dilihat dalam kitab-kitab tafsir.
Surat 2:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka. (QS. Al-An’am [6]: 1)
Surat 3:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. (QS. Al-Kahfi [18]: 1)
Surat 4:
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآَخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. (QS. Saba’ [34]: 1)
Surat 5:
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang memiliki) dua sayap, tiga sayap dan empat sayap. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Fathir [35]: 1)

Adapun dua surat yang diawali dengan lafal tabaaraka untuk Allah Ta’ala adalah:
Surat 6:
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam [maksudnya jin dan manusia]. (QS. Al-Furqan [25]: 1)
Surat 7:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Mulk [67]: 1)

Kedua, mensucikan Allah Ta’ala dengan meniadakan sifat-sifat aib dan kekurangan dari Allah Ta’ala

Cara ini dipergunakan dalam tujuh buah surat yang diawali dengan tasbih kepada Allah Ta’ala.
Surat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi negeri sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Isra’ [17]: 1)
Surat 2:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hadid [57]: 1)
Surat 3:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr [59]: 1)
Surat 4:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan yang berada di bumi. Dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. As-Shaf [61]: 1)
Surat 5:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, yang Maha Suci, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Jumu’ah [62]: 1)
Surat 6:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Taghabun [64]: 1)
Surat 7:
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi! (QS. Al-A’la [87]: 1)
Tajul Qurra’ imam Abul Qasim Burhanuddin Mahmud bin Hamzah Al-Kirmani (wafat tahun 505 H) dalam kitabnya Al-Burhan fi Taujih Mutasyabih Al-Qur’an menjelaskan keindahan lain dari ketujuh surat yang diawali dengan lafal tasbih di atas.
Lafal tasbih dalam awal surat Al-Isra’ hadir dalam bentuk isim mashdar [kata benda dasar atau asal semua bentuk pecahan kata]. Lafal tasbih dalam awal surat Al-Hadid dan Al-Hasyr hadir dalam bentuk fi’il madhi [kata kerja bentuk lampau]. Lafal tasbih dalam awal surat Al-Jumu’ah dan At-Taghabun hadir dalam bentuk fi’il mudhari’ [kata kerja bentuk sekarang dan akan datang]. Sedangkan lafal tasbih dalam awal surat Al-Isra’ hadir dalam bentuk fi’il amr [kata kerja perintah].
Subhanallah, beragam cara dan gaya Allah hadirkan untuk mengawali beberapa surat Al-Qur’an di atas dengan pujian kepada-Nya. Maha Suci dan Maha Indah Allah Ta’ala. Wallahu a’lam bish-shawab.
(muhib al majdi)
Sumber : http://www.arrahmah.com/

11 Kiat Hidup Bahagia dari Ustadz Arifin Ilham

Written By pusat alquran on Selasa, 16 Desember 2014 | 11.55


Setiap orang, pasti menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Laki-laki atau perempuan, tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, semuanya ingin hidupnya bahagia.

Lalu, bagaimana kiat hidup bahagia di zaman yang disebut oleh ustadz Arifin Ilham sebagai “era global maksiat” ini? Berikut 11 kiat dari beliau sebagaimana ditulis dalam akun facebooknya, KH Muhammad Arifin Ilham, Sabtu (19/4):

1. Tetap serius dan disiplinkan diri dalam taat walau dianggap asing, kampungan, sok alim, riya’ dan sebagainya

2. Selalu setiap hari mulai waktu fajar berinteraksi dengan Al Qur’an

3. "Ihyaaussunnah" konsisiten menghidupkan sunnah-sunnah Rasuullah, seperti tahajjud, dhuha, jaga wudhu, membiasakan zikir di setiap kesempatan dan selalu berjamaah di mesjid di mulai waktu subuh, 

4. Hiasilah kehidupan rumah tangga dengan keteladanan dan kemesraam dalam syariatNya

5. Berbakti kepada ayah ibu sepenuh hati

6. Senang berguru, mengunjungi dan mendengar nasehat ulama yang istiqamah

7. Duduk dan berkumpul dengan orang-orang shalih

8. Hadir di majlis ilmu dan zikir

9. Selalu menyempatkan duduk di atas sajadah untuk muhasabah diri persiapan hidup setelah mati

10. Beraktifitas dengan semangat syukur, baik sangka dan optimis

11. Segalanya selalu dimulai dengan doa dan diakhiri dengan tawakkal, Alhamdulillah. 

Demikian 11 kiat hidup bahagia dari Ustadz Arifin Ilham.
 sumber : http://www.bersamadakwah.com

3 Keutamaan Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim

Islam adalah agama yang sangat indah. Ia mengajarkan umatnya untuk tidak membuka aib orang lain yang hanya akan membuat orang tersebut terhina. Islam memerintahkan umatnya untuk menutupi aib saudaranya sesama muslim. Dan bagi mereka yang mau menutupi aib saudaranya tersebut, ada 3 keutamaan yang bisa ia dapatkan sebagaimana hadits-hadits berikut ini:


1. Allah akan menutupi aibnya di akhirat kelak

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak." (HR. Muslim)

مَنْ سَتَرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فِي الدُّنْيَا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa menutupi (aib) saudaranya sesama muslim di dunia, Allah menutupi (aib) nya pada hari kiamat." (HR. Ahmad)

Sebaliknya, siapa yang mengumbar aib saudaranya, Allah akan membuka aibnya hingga aib rumah tangganya.

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ كَشَفَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ
"Barang siapa yang menutupi aib saudaranya muslim, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat, dan barang siapa mengumbar aib saudaranya muslim, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dalam rumahnya." (HR. Ibnu Majah)

2. Allah juga menutupi aibnya di dunia ini

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Barang Siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat." (HR. Ibnu Majah)

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
"Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya." (HR. Tirmidzi) 

3. Keutamaan menutup aib saudara seperti menghidupkan bayi yang dikubur hidu-hidup

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً
"Siapa melihat aurat (aib orang lain) lalu menutupinya, maka seakan-akan ia menghidupkan bayi yang dikubur hidup-hidup." (HR. Abu Daud)

مَنْ رَأَى عَوْرَةً فَسَتَرَهَا كَانَ كَمَنْ اسْتَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا
"Barangsiapa melihat aurat lalu ia menutupinya maka seolah-oleh ia telah menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya." (HR. Ahmad)

مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا كَانَ كَمَنْ أَحْيَا مَوْءُودَةً مِنْ قَبْرِهَا
"Barangsiapa menutupi aib seorang mukmin maka ia seperti seorang yang menghidupkan kembali Mau`udah dari kuburnya." (HR. Ahmad)

Wallahu a'lam bish shawab. [Abu Nida]
sumber : http://www.bersamadakwah.com/

Tantang Ustadz Yusuf Mansur Cari Dalil Haram Ucapkan Selamat Natal, Ulil "JIL" Dinilai Bodoh


JAKARTA - Ustadz Yusuf Mansur memang dikenal sangat dekat dengan dunia selebriti. Akan tetapi, ketenarannya dan kedekatan beliau dengan para pejabat serta selebriti tidak membuat beliau lupa akan kewajiban untuk beramar makruf nahyi munkar sekuat tenaga beliau.
Hal itu dibuktikan, dari beberapa tulisannya di twitter dan ceramah beliau banyak direspon oleh para pejabat dan, cukup membuat gerah para politisi sekuler dan cendekiawan liberal yang sok eksis.
Mulai kasus Menteri Pendidikan yang sekaligus Rektor Paramadina, sekolah tinggi pencetak manusia liberal, siapa lagi kalau bukan Anis Baswedan, calon wurung presiden Demokrat yang singgah ke pangkuan Jokowi, yang mencoba mengotak atik masalah doa di sekolahan, meski sekedar “Test the Water”, alhamdulilah Ustadz Yusuf Mansur dengan tepat merespon lewat twitter dan konon juga langsung telpon juga, dan kini isu itu tertangani dengan baik.
Bukan hanya itu, Ustadz Yusuf Mansur juga mengingatkan Presiden Jokowi untuk tidak hadir dalam perayaan Natal Nasional di Jayapura Papua, pada tanggal 27 Desember 2014, yang dananya mencapai 20 milyar.
Kini giliran pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla yang sekarang sembunyi diketiak Demokrat ini, mencoba menantang Ustadz Yusuf Mansur untuk menunjukan dalil haramnya bagi umat Islam mengucapkan selamat natal untuk kafir Kristen dan katolik.
“Nggak ada larangan, baik di Quran maupun di hadis, untuk ucapkan Selamat Natal, Ustadz. Coba aja dicari. :)” tulis Ulil sembari me-mensen akun twitter Ustadz Yusuf Mansur.
Menurut Ulil, mengucapkan selamat natal bukan berarti menyetujui doktrin agama Kristen.
“Sama dengan umat Kristen yang mengucapkan Selamat Idul Fitri bukan berarti langsung mengakui doktrin tauhid ala Islam,” lanjutnya.
Karenanya, ia menegaskan bahwa mengharamkan mengucapkan selamat natal adalah kekeliruan.
“Tak ada paksaan untuk ucapkan Selamat Natal/Selamat Idul Fitri. Yang mau monggo, yang ngga juga ndak apa-apa. Tapi kalau mengharamkan, keliru.”
Ulil bahkan perlu mengulangi sekali lagi bahwa mengharamkan mengucapkan selamat natal adalah keliru.
“Sekali lagi tak ada larangan mengucapkan Selamat Natal di Quran atau hadis. Yang mengharamkannya, menurut saya, keliru,” tegasnya.demikian di lansir dari bersamadakwah.
Menanggapi polah tingkah Ulil “JIL” ini, reporter Voa-Islam mencoba meminta tanggapan Ustadz Abu Usamah Bin Adam Kohar El Blory salah seorang aktivis dakwah pergerakan di kota Blora , pada Jum’at (12/12/2014). Dengan nada santai beliau katakan:
“Sikap Ulil itu justru menunjukan bahwa dirinya itu bodoh sekali tentang ajaran Islam, jadi kalau dia masih mempertanyakan apakah mengucapkan selamat natal boleh atau tidak, ada dalilnya atau tidak, berarti dia selama ini belajar apa? Ajaran Islam apa ajaran setan? Kalau yang di pelajari ajaran Islam, seluruh ulama telah sepakat bahwa mengucapkan selamat natal kepada kafir Kristen itu haram” tegas ustadz yang juga menjadi pengasuh Maqdis Darul Anshor Ngawen Blora .
Semoga umat Islam tidak terkecoh dengan celoteh para kaum liberal yang menyesatkan [syahid/protonema/voa-islam.com]
sumber : http://www.voa-islam.com
 
Copyright © 2011. Pusat Al Quran - All Rights Reserved
Template Published by Mas Template Redesigned by Pusatalquran.com,
Proudly powered by Blogger